Draf cerita untuk buku Baby Mo
Tujuh Kali Doa untuk Nenek

Nenek sakit. Baby Ais membawa gambar bunga matahari dan satu doa yang ia latih di mobil — tujuh kali, dihitung dengan jari.
"Nenek sakit," kata Umi pagi itu. "Hari ini kita jenguk, ya."
Baby Ais langsung mengambil krayon. Ia menggambar kebun Nenek: bunga matahari yang tinggi-tinggi, kursi bambu, dan kucing oranye yang suka tidur di sana. Kuningnya banyak sekali. Supaya Nenek ingat kebunnya menunggu.
Di mobil, Umi mengajarkan sebuah doa. "Rasulullah ﷺ mengajarkan doa ini untuk orang sakit. Diucapkan tujuh kali."
As'alullaahal-'azhiima…
"As-a-lul-lo-hal-a-zhi-ma," ulang Baby Ais, pelan-pelan.
…rabbal-'arsyil-'azhiimi…
"Rob-bal-ar-syil-a-zhi-mi."
…an yasyfiyak.
"An yasy-fi-yak." Baby Ais mengulanginya sepanjang jalan. Kadang lancar, kadang tersandung. Baby Mo ikut-ikutan, tapi lalu tertidur dengan mulut terbuka.
"Artinya apa, Umi?"
"Aku memohon kepada Allah Yang Maha Agung, agar menyembuhkanmu."
Di rumah Nenek, semuanya terasa berbeda. Tidak ada suara Nenek memanggil dari dapur. Kamarnya redup. Nenek berbaring, wajahnya pucat, suaranya kecil sekali.
Baby Ais berhenti di pintu. Kertas gambarnya ia remas sedikit. Nenek yang ini bukan Nenek yang biasanya mengejarnya keliling kebun.
"Ais takut, ya?" bisik Umi.
Baby Ais mengangguk.
"Nggak apa-apa. Nenek tetap Nenek. Yuk, pegang tangannya."
Baby Ais berjalan pelan ke samping kasur. Tangan Nenek terasa hangat, dan sedikit keriput, seperti kertas yang lembut. Nenek membuka mata dan tersenyum. "Ais…"
Baby Ais memberikan gambarnya. Nenek memandanginya lama sekali. "Kucingnya mirip," katanya, dan mereka berdua tertawa kecil.
Lalu Baby Ais mengangkat jari-jarinya. Ia mulai berbisik.
"As'alullaahal-'azhiima rabbal-'arsyil-'azhiimi an yasyfiyak." Satu jari.
Dua jari. Tiga jari. Di jari keempat ia lupa di tengah, dan Umi membisikkan lanjutannya.
Lima. Enam. Tujuh.
Tujuh jari terangkat. Nenek menggenggam tangan kecil itu. "Doamu sampai, sayang. Nenek dengar. Allah juga dengar."
Nenek tidak langsung sembuh hari itu. Ia masih harus banyak tidur dan minum obat. Tapi waktu mereka pamit, wajah Nenek tidak sepucat tadi.
Seminggu kemudian, telepon berdering. Suara Nenek terdengar jelas dan ceria. "Ais! Gambarmu Nenek tempel di dinding. Kucingnya setiap hari duduk di bawahnya!"
Baby Ais melompat-lompat. Lalu ia mengangkat tujuh jarinya ke arah telepon, seolah Nenek bisa melihat.
As'alullaahal-'azhiima rabbal-'arsyil-'azhiimi an yasyfiyak. — "Aku memohon kepada Allah Yang Maha Agung, Tuhan 'Arsy yang agung, agar menyembuhkanmu." Diucapkan tujuh kali saat menjenguk orang sakit. (HR. Tirmidzi 2083, Abu Dawud 3106)
Ngobrol bareng si kecil: siapa yang mau kita doakan hari ini? Yuk hitung tujuh dengan jari, bersama-sama. 🌻

Masya Allah, ceritanya selesai! ⭐
Hebat! Sekarang coba ceritakan lagi ke Umi atau Abi dengan kata-katamu sendiri.
📖 Cerita berikutnya: Juara Dua yang Paling Berani →Untuk Ayah & BundaSumber, derajat, peninjau, dan tips
Terkait cerita ini
Doa
Doa Menjenguk Orang Sakit
Baca ceritanya →
Catatan lain
Pelukan Tidak Pernah Habis
Sepupu bayi datang menginap, dan Umi menggendongnya sepanjang hari. "Aku juga bayi!" teriak Baby Mo. Apakah sayang Umi bisa habis?
Baby Mo & Baby AisPasukan Pemungut Sampah
Seekor burung kecil mematuk bungkus plastik di taman. Baby Mo dan Baby Ais memutuskan sesuatu — dan taman itu tidak pernah sama lagi.