Lewati ke konten
Baby Mo

Draf cerita untuk buku Baby Mo

Baby Mo & Baby AisCerita Anak26 Oktober 2026·4 menit baca

Juara Dua yang Paling Berani

Baby Mo

Baby Mo selalu menang lomba lari ke pohon mangga. Selalu. Sampai hari ini, Baby Ais sampai duluan.

Setiap sore, di taman, Baby Mo dan Baby Ais lomba lari ke pohon mangga.

"Siap… siaaap… MULAI!"

Dan setiap sore, Baby Mo yang menang. Ia akan menepuk batang pohon, mengangkat kedua tangan, dan berteriak, "JUARA SATU!"

Baby Ais akan sampai beberapa detik kemudian, terengah-engah, lalu tersenyum. "Selamat, Mo!"

Selalu begitu. Menang — "Juara satu!" — "Selamat, Mo!"

Tapi sore ini berbeda.

"Siap… siaaap… MULAI!"

Baby Ais melesat seperti kucing yang melihat kupu-kupu. Kakinya kecil tapi cepat sekali. Baby Mo berlari sekuat tenaga — tapi punggung Baby Ais tetap di depan. Makin jauh. Makin jauh.

Tep! Baby Ais yang menepuk pohon duluan.

Baby Mo berhenti. Wajahnya panas. Ia menendang rumput. "Nggak adil! Sepatuku licin! Tadi aku belum siap! Ulang!"

Baby Ais menurunkan tangannya yang tadi terangkat. Senyumnya pelan-pelan hilang.

Abi, yang duduk di bangku taman, memanggil Baby Mo. "Mo, sini sebentar."

Baby Mo datang sambil cemberut, tangan dilipat di dada.

"Kalah itu rasanya nggak enak, ya," kata Abi.

Baby Mo mengangguk keras. Matanya mulai berair.

"Abi mau tanya satu hal saja. Kalau kamu yang menang, Ais biasanya bilang apa?"

Baby Mo terdiam. Ia ingat. Setiap sore. Setiap kali Ais kalah.

"…'Selamat, Mo,'" bisiknya.

"Padahal Ais juga pasti pernah sedih karena kalah, kan?"

Baby Mo menatap Baby Ais di bawah pohon mangga. Adiknya sedang memungut daun, sendirian, tidak merayakan apa-apa.

Rasanya berat sekali. Kakinya seperti ditempeli batu. Mengucapkan selamat ketika kita sendiri sedang sedih — ternyata itu lebih susah daripada lomba lari mana pun.

Tapi Baby Mo berjalan. Satu langkah. Dua langkah. Sampai di bawah pohon mangga.

"Ais," katanya, masih sedikit cemberut. "Selamat. Kamu cepat banget tadi."

Wajah Baby Ais langsung bersinar seperti matahari sore. "Mau lomba lagi?"

Baby Mo menggeleng. Lalu ia duduk di samping adiknya. "Besok saja. Sekarang ceritain dong — gimana caranya kamu bisa secepat itu?"

Dan Baby Ais pun bercerita, panjang sekali, dengan tangan bergerak-gerak seperti sayap.

Abi tersenyum dari bangku. Sore itu ada dua juara. Juara satu lomba lari. Dan juara dua yang paling berani.

"Tidak sempurna iman salah seorang dari kalian, hingga ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri." (HR. Bukhari 13, Muslim 45)

Ngobrol bareng si kecil: kenapa bilang "selamat" waktu kalah itu butuh keberanian? Kapan terakhir kamu melakukannya? 🏃

Masya Allah, ceritanya selesai! ⭐

Hebat! Sekarang coba ceritakan lagi ke Umi atau Abi dengan kata-katamu sendiri.

📖 Cerita berikutnya: DUAR! Siapa Takut Petir? →
Tema:Persaudaraan
Untuk Ayah & BundaSumber, derajat, peninjau, dan tips

Terkait cerita ini

Parenting

Rivalitas Antar Saudara

Baca ceritanya →


Catatan lain