Draf cerita untuk buku Baby Mo
Pelukan Tidak Pernah Habis

Sepupu bayi datang menginap, dan Umi menggendongnya sepanjang hari. "Aku juga bayi!" teriak Baby Mo. Apakah sayang Umi bisa habis?
Hari itu ada tamu kecil di rumah: Dedek Hana, sepupu bayi yang baru berumur tiga bulan. Tante harus pergi ke dokter, jadi Dedek Hana dititipkan seharian.
Dedek Hana kecil sekali. Jari-jarinya sebesar kacang. Kalau menangis, suaranya seperti anak kucing.
Dan Umi menggendongnya. Sepanjang pagi.
Waktu Baby Mo mau menunjukkan menara baloknya, Umi sedang memberi Dedek Hana susu botol. "Sebentar ya, Mo."
Waktu Baby Mo mau dibacakan buku, Umi sedang mengganti popok Dedek Hana. "Sebentar ya, Mo."
Waktu Baby Mo mau dipeluk sebelum tidur siang, Umi sedang menimang Dedek Hana yang rewel. "Sebentar ya, Mo."
Sebentar. Sebentar. Sebentar.
Baby Mo merasa ada yang mengecil di dalam dadanya. Seperti balon yang kempes pelan-pelan.
Lalu ia melakukan sesuatu yang aneh. Ia berbaring di lantai, menendang-nendang kaki ke udara, dan menangis keras-keras: "Oeeek! Oeeek! Aku juga bayi! Gendong aku juga!"
Baby Ais menatapnya bingung. Dedek Hana ikut menangis karena kaget.
Umi tidak marah. Ia membaringkan Dedek Hana di keranjang, lalu duduk di lantai di samping Baby Mo.
"Mo," katanya pelan, "kamu takut sayang Umi habis dibagi ke Dedek Hana, ya?"
Tangis Baby Mo berhenti. Ia mengangguk kecil. Itu persis yang ia rasakan, padahal ia tidak tahu cara mengatakannya.
Umi tersenyum. "Sini. Umi tunjukkan sesuatu."
Umi membuka kedua tangannya lebar-lebar dan memeluk Baby Mo. Lalu ia memanggil, "Ais, sini!" โ dan Baby Ais masuk ke pelukan itu juga. Lalu Umi meraih keranjang dan menarik Dedek Hana ke tengah-tengah.
Tiga anak. Satu pelukan. Hangat dan sedikit sesak.
"Lihat," kata Umi. "Tangan Umi cukup. Sayang itu bukan kue yang kalau dibagi jadi kecil. Sayang itu seperti pelukan. Makin banyak yang masuk, makin hangat."
Di tengah pelukan itu, tangan Dedek Hana yang mungil menyentuh jari Baby Mo. Lalu โ tiba-tiba โ menggenggamnya. Erat sekali, untuk tangan sekecil itu.
Baby Mo membeku. "Umiโฆ dia pegang aku."
"Dia sayang kamu," bisik Umi. "Kamu kakaknya hari ini."
Sore itu, Baby Mo mengambil tugas baru. Ia duduk di samping keranjang dan menyanyikan lagu "Bismillah Dulu" setiap kali Dedek Hana mulai merengek. Kadang berhasil. Kadang tidak. Tapi ia tidak beranjak.
Waktu Tante datang menjemput, Baby Mo berdiri di depan keranjang seperti penjaga. "Tante, Dedek Hana tadi pegang jariku. Kapan dia nginap lagi?"
Malamnya, sebelum tidur, Umi memeluk Baby Mo lama sekali. Tanpa "sebentar". Tanpa "nanti".
"Umi," bisik Baby Mo dengan mata setengah terpejam, "pelukan nggak pernah habis, ya?"
"Nggak pernah, sayang."
"Barangsiapa yang tidak menyayangi, maka ia tidak akan disayangi." Rasulullah ๏ทบ mengucapkannya saat ada yang heran melihat beliau mencium cucunya. (HR. Bukhari 5997, Muslim 2318)
Ngobrol bareng si kecil: pernah merasa takut sayang Umi atau Abi berkurang? Yuk, coba pelukan sebanyak-banyaknya orang sekarang! ๐ค

Masya Allah, ceritanya selesai! โญ
Hebat! Sekarang coba ceritakan lagi ke Umi atau Abi dengan kata-katamu sendiri.
๐ Cerita berikutnya: Pasukan Pemungut Sampah โUntuk Ayah & BundaSumber, derajat, peninjau, dan tips
Terkait cerita ini
Hadis
Yang tidak menyayangi tidak akan disayangi
Baca ceritanya โ
Catatan lain
Pasukan Pemungut Sampah
Seekor burung kecil mematuk bungkus plastik di taman. Baby Mo dan Baby Ais memutuskan sesuatu โ dan taman itu tidak pernah sama lagi.
Baby Mo & Baby AisPerjalanan Paling Panjang Sedunia
Delapan jam ke rumah Nenek. "Masih lama?" tanya si kembar, lagi dan lagi. Abi punya doa yang katanya bisa "mendekatkan jarak".