Lewati ke konten
Baby Mo

Draf cerita untuk buku Baby Mo

Baby Mo & Baby AisCerita Anak1 November 2026·5 menit baca

Pasukan Pemungut Sampah

Baby Mo

Seekor burung kecil mematuk bungkus plastik di taman. Baby Mo dan Baby Ais memutuskan sesuatu — dan taman itu tidak pernah sama lagi.

Hari Minggu pagi, taman dekat rumah ramai sekali. Ada yang bersepeda, ada yang jogging, ada yang jualan bubur ayam.

Tapi Baby Ais melihat sesuatu yang lain.

Di bawah bangku, ada botol plastik. Di dekat ayunan, bungkus permen. Di pinggir kolam, gelas kopi yang sudah penyok. Dan di rumput, seekor burung pipit kecil sedang mematuk-matuk bungkus plastik, mengira itu makanan.

"Mo," bisik Baby Ais. "Burungnya mau makan plastik."

Baby Mo bertepuk tangan keras-keras. Burung itu terbang. Tapi bungkus plastiknya masih di sana.

Mereka berdua memandanginya. Lalu memandang satu sama lain. Mereka kembar — kadang mereka tidak perlu bicara untuk tahu isi kepala satu sama lain.

"Abi!" seru mereka bersamaan. "Kami mau mungutin sampah!"

Abi mengangkat alis, lalu tersenyum. Ia mengeluarkan kantong belanja kosong dari tas dan dua pasang sarung tangan kebun. "Boleh. Tapi aturannya: pakai sarung tangan, dan jangan pegang yang tajam. Kalau ketemu beling, panggil Abi."

"Siap, Komandan!"

Maka berdirilah Pasukan Pemungut Sampah. Anggotanya dua orang.

Botol plastik — masuk kantong. Bungkus permen — masuk kantong. Sedotan — masuk kantong. Gelas kopi penyok — masuk kantong.

Seorang anak laki-laki yang sedang main bola berhenti dan menonton. "Kalian lagi ngapain?"

"Kami Pasukan Pemungut Sampah," kata Baby Mo dengan bangga. "Biar burungnya nggak makan plastik."

Anak itu berpikir sebentar. Lalu ia memungut tutup botol di dekat kakinya. "Aku boleh ikut?"

Anggotanya jadi tiga orang.

Lalu datang dua anak kakak-beradik. Lalu seorang kakek yang membawa kantong plastiknya sendiri. Lalu ibu penjual bubur, yang menyumbang kantong besar dan berkata, "Nanti selesai, Ibu traktir bubur, ya!"

Anggotanya jadi tujuh orang.

Sambil memungut, Abi bercerita. "Tahu nggak, Rasulullah ﷺ bilang, menyingkirkan sesuatu yang mengganggu dari jalan itu sedekah."

"Sedekah?" Baby Ais heran. "Tapi kita nggak kasih uang."

"Sedekah bukan cuma uang. Membuat jalan bersih supaya orang tidak tersandung, supaya burung tidak sakit — itu juga hadiah. Hadiah untuk semua yang lewat."

Baby Mo memandangi kantong yang sekarang penuh. "Berarti hari ini kita sedekah banyak banget."

Menjelang siang, taman itu tampak berbeda. Rumputnya hijau, tanpa warna-warni plastik. Kolamnya jernih. Dan di rumput, burung pipit kecil tadi kembali — kali ini mematuk biji-bijian sungguhan.

Pasukan Pemungut Sampah duduk berjejer di bangku, makan bubur ayam gratis.

"Minggu depan lagi?" tanya anak laki-laki pemain bola.

"Minggu depan lagi!" jawab tujuh suara sekaligus.

"…dan menyingkirkan gangguan dari jalan adalah sedekah." (HR. Bukhari 2989, Muslim 1009)

Ngobrol bareng si kecil: di sekitar rumah kita, adakah "gangguan" kecil yang bisa kita singkirkan minggu ini? 🌿

Masya Allah, ceritanya selesai! ⭐

Hebat! Sekarang coba ceritakan lagi ke Umi atau Abi dengan kata-katamu sendiri.

📖 Cerita berikutnya: Perjalanan Paling Panjang Sedunia →
Untuk Ayah & BundaSumber, derajat, peninjau, dan tips

Terkait cerita ini

Parenting

Mengajarkan Adab Sehari-Hari

Baca ceritanya →


Catatan lain