Draf cerita untuk buku Baby Mo
Perjalanan Paling Panjang Sedunia

Delapan jam ke rumah Nenek. "Masih lama?" tanya si kembar, lagi dan lagi. Abi punya doa yang katanya bisa "mendekatkan jarak".
Pagi-pagi sekali, mobil sudah penuh. Tas, bantal, termos, sekotak kue untuk Nenek, dan dua anak kembar yang masih memakai piyama.
"Rumah Nenek jauh," kata Abi sambil memasang sabuk pengaman. "Delapan jam."
"Delapan jam itu berapa lama?" tanya Baby Ais.
"Kira-kira… dari bangun tidur sampai makan siang, lalu sampai sore."
Baby Mo membelalak. "Itu perjalanan paling panjang SEDUNIA!"
Sebelum mobil berjalan, Abi mengangkat tangan dan berdoa. Si kembar ikut mengangkat tangan, meskipun belum hafal.
Allahumma innaa nas'aluka fii safarinaa haadzal-birra wat-taqwaa… Allahumma hawwin 'alainaa safaranaa haadzaa, wathwi 'annaa bu'dah.
"Artinya apa, Abi?"
"Ya Allah, mudahkanlah perjalanan kami, dan dekatkanlah jaraknya."
Baby Ais memandang jalan di depan. "Jadi jalannya nanti jadi pendek?"
Abi tersenyum. "Kita lihat saja nanti."
Satu jam kemudian.
"Abi, masih lama?"
"Masih, sayang."
Dua jam kemudian.
"Abi, masih lamaaa?"
"Masih."
Tiga jam kemudian, Baby Mo menempelkan pipinya ke kaca. "Abi… masih lama nggak siiih?"
Abi melirik ke kaca spion. "Kita main yuk. Namanya Cari Ciptaan Allah. Siapa yang lihat duluan, dapat satu poin. Mulai: cari… sapi!"
"SAPI!" teriak Baby Ais, menunjuk ke sawah. "Satu poin buat aku!"
"Cari… gunung!"
"Itu! Itu! Yang ada awannya di atas!" seru Baby Mo.
Mereka menemukan kerbau yang berendam di lumpur. Sungai yang airnya cokelat. Pohon kelapa yang berbaris seperti tentara. Burung bangau putih yang berdiri dengan satu kaki. Setiap kali, Umi bertanya, "Siapa yang menciptakan?" dan mereka menjawab bersama, "Allaaah!"
Baby Ais mengumpulkan dua puluh tiga poin. Baby Mo mengumpulkan sembilan belas — lalu tertidur di tengah kata "kerbau", dengan mulut terbuka dan kue setengah dimakan di tangannya.
Ia tidur lama sekali.
Waktu ia membuka mata, mobil sudah berhenti. Di luar ada pagar hijau yang ia kenal, pohon jambu, dan Nenek yang melambai-lambai dari teras.
Baby Mo mengucek matanya. "Lho? Sudah sampai?"
"Sudah," kata Abi.
Baby Mo melompat girang. "Abi! Doanya BERHASIL! Jalannya jadi pendek banget!"
Baby Ais memutar bola matanya. "Itu karena kamu TIDUR, Mo."
Abi tertawa sampai harus menyandarkan kepala ke setir. "Dua-duanya benar," katanya. "Allah memudahkan perjalanan dengan banyak cara. Kadang dengan sapi dan gunung. Kadang dengan tidur yang nyenyak."
Allahumma innaa nas'aluka fii safarinaa haadzal-birra wat-taqwaa, wa minal-'amali maa tardhaa. Allahumma hawwin 'alainaa safaranaa haadzaa, wathwi 'annaa bu'dah. — "Ya Allah, kami memohon kebaikan dan ketakwaan dalam perjalanan kami ini, serta amal yang Engkau ridai. Ya Allah, mudahkanlah perjalanan kami ini dan dekatkanlah jaraknya." (HR. Muslim 1342)
Ngobrol bareng si kecil: di perjalanan berikutnya, mau main Cari Ciptaan Allah? Siapa yang menurutmu akan menang? 🚗

Masya Allah, ceritanya selesai! ⭐
Hebat! Sekarang coba ceritakan lagi ke Umi atau Abi dengan kata-katamu sendiri.
📖 Cerita berikutnya: Pak Telinga yang Hilang →Untuk Ayah & BundaSumber, derajat, peninjau, dan tips
Terkait cerita ini
Doa
Doa Bepergian (Safar)
Baca ceritanya →
Catatan lain
Pelukan Tidak Pernah Habis
Sepupu bayi datang menginap, dan Umi menggendongnya sepanjang hari. "Aku juga bayi!" teriak Baby Mo. Apakah sayang Umi bisa habis?
Baby Mo & Baby AisPasukan Pemungut Sampah
Seekor burung kecil mematuk bungkus plastik di taman. Baby Mo dan Baby Ais memutuskan sesuatu — dan taman itu tidak pernah sama lagi.