Draf cerita untuk buku Baby Mo
Langit Merah Muda yang Terlewat

Tiga kali Baby Ais memanggil, tiga kali Baby Mo menjawab "sebentar". Waktu ia akhirnya menoleh dari layar, langitnya sudah gelap.
Sore itu Baby Mo menonton video di tablet. Kartun truk pemadam kebakaran. Satu selesai, langsung muncul yang berikutnya. Dan berikutnya. Dan berikutnya.
Dari teras, Baby Ais memanggil. "Mo! Sini! Langitnya jadi oranye!"
"Sebentar," jawab Baby Mo. Matanya tidak bergerak dari layar.
Truk merah menyemprotkan air. Video berganti.
"Mo! Sekarang langitnya merah muda! Kayak permen kapas!"
"Sebentaaar."
Video berganti lagi. Truk kuning. Truk biru.
"MO! Ada burung banyak terbang pulang! Cepetan!"
"Iya, sebentar…"
Ketika video berikutnya habis, Baby Mo akhirnya meletakkan tablet dan berlari ke teras.
Langitnya sudah gelap. Ungu tua, lalu hitam. Tidak ada oranye. Tidak ada merah muda. Burung-burungnya sudah pulang.
Baby Ais duduk memeluk lutut. "Tadi bagus banget," katanya pelan. "Ada awan bentuknya kayak gajah."
Baby Mo berdiri lama memandangi langit yang kosong. Dadanya terasa aneh. Bukan marah. Bukan sedih biasa. Seperti kehilangan sesuatu yang tidak bisa diulang.
"Abi," katanya ketika Abi datang, "bisa nggak langitnya diputar ulang? Kayak video?"
Abi duduk di samping mereka. "Video bisa diputar ulang, Mo. Langit sore tadi tidak. Hari ini tidak akan datang dua kali."
Baby Mo terdiam.
"Rasulullah ﷺ pernah bilang, ada dua nikmat yang sering membuat orang tertipu: sehat dan waktu luang. Kita punya waktu, tapi sering tidak sadar sedang menghabiskannya."
"Tabletnya yang nyuri waktuku," gumam Baby Mo.
"Tabletnya cuma kotak kecil," kata Abi lembut. "Yang memutuskan kapan berhenti, siapa?"
Baby Mo berpikir lama. Lalu matanya berbinar. Ia berlari ke dalam dan kembali membawa jam pasir kecil dari dapur — yang biasa Umi pakai untuk merebus telur.
"Besok," katanya, "aku nonton sampai pasirnya habis. Terus aku matikan sendiri. Biar nggak ketinggalan langit lagi."
Abi mengangkat jempol. "Itu ide siapa?"
"Ideku!"
Besok sorenya, pasir terakhir jatuh tepat saat truk pemadam sedang menyemprot. Tangan Baby Mo ragu sebentar di atas tombol. Sebentar saja.
Klik. Layarnya gelap.
Ia berlari ke teras. Baby Ais menunjuk ke atas. Langitnya sedang berubah dari oranye ke merah muda, dan ada satu awan panjang yang bentuknya seperti truk pemadam kebakaran.
"Subhanallah," bisik mereka berdua.
"Dua nikmat yang banyak manusia tertipu karenanya: kesehatan dan waktu luang." (HR. Bukhari 6412)
Ngobrol bareng si kecil: apa yang mungkin kita lewatkan kalau terlalu lama menatap layar? Mau bikin jam pasir sendiri? ⏳

Masya Allah, ceritanya selesai! ⭐
Hebat! Sekarang coba ceritakan lagi ke Umi atau Abi dengan kata-katamu sendiri.
📖 Cerita berikutnya: Baju yang Terbalik →Untuk Ayah & BundaSumber, derajat, peninjau, dan tips
Terkait cerita ini
Parenting
Screen Time yang Sehat
Baca ceritanya →
Catatan lain
Pelukan Tidak Pernah Habis
Sepupu bayi datang menginap, dan Umi menggendongnya sepanjang hari. "Aku juga bayi!" teriak Baby Mo. Apakah sayang Umi bisa habis?
Baby Mo & Baby AisPasukan Pemungut Sampah
Seekor burung kecil mematuk bungkus plastik di taman. Baby Mo dan Baby Ais memutuskan sesuatu — dan taman itu tidak pernah sama lagi.