Draf cerita untuk buku Baby Mo
DUAR! Siapa Takut Petir?

Setiap kali langit berbunyi DUAR, Baby Mo menghilang ke bawah selimut. Sampai ia tahu apa yang sebenarnya diucapkan petir.
Malam itu hujan turun deras. Lalu langit menyala putih sekejap — kilat! — dan sesudahnya:
DUAR!
Baby Mo melompat ke bawah selimut secepat kilat. Yang kelihatan cuma dua kaki kecil yang gemetar.
Baby Ais malah menempelkan hidungnya ke jendela. "Mo! Lihat! Langitnya kayak lampu blitz!"
"Nggak mau!" suara Baby Mo teredam dari dalam selimut.
DUAR!
Selimutnya bergetar makin kencang.
Umi duduk di tepi kasur. Ia tidak menarik selimutnya. Ia cuma berbisik, "Mo, mau main tebak-tebakan? Kita hitung dari kilat sampai bunyinya. Makin besar angkanya, makin jauh petirnya."
Dari dalam selimut, satu mata mengintip.
Kilat! Umi dan Baby Ais menghitung, "Satu… dua… tiga… empat…"
DUAR!
"Empat!" seru Baby Ais. "Jauh!"
Abi masuk membawa segelas air hangat. "Tahu nggak, Mo, petir itu sebenarnya sedang bilang sesuatu."
Baby Mo mengintip dengan dua mata sekarang. "Bilang apa?"
"Petir sedang bertasbih. Memuji Allah. Seperti bedug raksasa yang bilang Subhanallah sekeras-kerasnya. Makanya, setiap dengar petir, sahabat Nabi membaca doa ini." Abi mengucapkannya pelan-pelan:
Subhanalladzi yusabbihur-ra'du bihamdihi wal-mala'ikatu min khifatih.
"Jadi petirnya nggak marah?" tanya Baby Mo.
"Nggak. Petirnya sedang memuji Allah. Kita boleh ikut memuji."
Kilat! "Satu… dua… tiga… empat… lima…"
DUAR!
Kali ini, dari dalam selimut terdengar suara kecil: "Subhanallah…"
Kilat lagi! Baby Mo menurunkan selimutnya sampai ke dagu. "Satu… dua… tiga… empat… lima… enam…"
DUAR!
"SUBHANALLAH!" seru Baby Mo, lebih keras dari petirnya. Baby Ais tertawa sampai terguling.
Petir makin jauh. Tujuh. Delapan. Sembilan. Bunyinya tinggal "duar" kecil, seperti bedug dari kampung sebelah.
Baby Mo sekarang duduk di samping Baby Ais di jendela. Masih memegang ujung baju Umi — tapi duduk di jendela.
"Ais," katanya, "petirnya sudah capek memuji Allah."
"Gantian kita," jawab Baby Ais. Lalu mereka berbisik bersama, "Subhanallah."
Malam itu Baby Mo tertidur sambil menghitung. Bukan menghitung rasa takut. Menghitung pujian.
Subhanalladzi yusabbihur-ra'du bihamdihi wal-mala'ikatu min khifatih. — "Maha Suci Dzat yang petir bertasbih dengan memuji-Nya, dan para malaikat pun bertasbih karena takut kepada-Nya." (Diriwayatkan dalam Al-Muwatta' Imam Malik)
Ngobrol bareng si kecil: saat hujan petir berikutnya, mau ikut menghitung dan bilang Subhanallah bersama? ⚡

Masya Allah, ceritanya selesai! ⭐
Hebat! Sekarang coba ceritakan lagi ke Umi atau Abi dengan kata-katamu sendiri.
📖 Cerita berikutnya: Awan Petir di Dada Baby Ais →Untuk Ayah & BundaSumber, derajat, peninjau, dan tips
Terkait cerita ini
Doa
Doa Mendengar Petir
Baca ceritanya →
Catatan lain
Pelukan Tidak Pernah Habis
Sepupu bayi datang menginap, dan Umi menggendongnya sepanjang hari. "Aku juga bayi!" teriak Baby Mo. Apakah sayang Umi bisa habis?
Baby Mo & Baby AisPasukan Pemungut Sampah
Seekor burung kecil mematuk bungkus plastik di taman. Baby Mo dan Baby Ais memutuskan sesuatu — dan taman itu tidak pernah sama lagi.