Draf cerita untuk buku Baby Mo
Hari Ketika Umi Sakit
Pagi ini Umi tidak bangun untuk membuat sarapan. Badannya panas. Baby Mo dan Baby Ais memutuskan: hari ini, merekalah yang merawat Umi.
Biasanya, setiap pagi, Umi sudah ada di dapur. Ada bau roti panggang dan suara Umi bersenandung.
Tapi pagi ini dapur sepi. Kamar Umi gelap. Umi masih berbaring di kasur dengan selimut sampai ke dagu.
"Umi?" Baby Mo mengintip dari pintu.
"Umi sedang sakit, Sayang," kata Abi pelan. Ia meletakkan termometer di meja kecil. "Badan Umi panas. Umi perlu istirahat."
Baby Ais memandang Umi dengan cemas. Umi yang selalu kuat. Umi yang selalu menggendong. Umi yang selalu tahu di mana kaus kaki yang hilang. Sekarang Umi terlihat lemah.
"Kalau Umi sakit, siapa yang merawat Umi?" tanya Baby Ais.
Abi berjongkok. "Bagaimana kalau hari ini… kita yang merawat Umi?"
Baby Mo langsung berdiri tegak seperti tentara. "Siap!"
Mereka membuat rencana. Tugas Baby Mo: membawa air minum. Tugas Baby Ais: menjaga Umi tetap hangat. Tugas Abi: memasak sup.
Baby Mo membawa gelas air dengan dua tangan, berjalan pelan-pelan sekali supaya tidak tumpah. Satu langkah. Dua langkah. Tiga langkah. "Ini, Umi. Diminum, ya."
Umi tersenyum lemah. "Terima kasih, Kakak Mo."
Baby Ais menarik selimut Umi supaya rapi, lalu menaruh boneka kelincinya di samping bantal Umi. "Biar Umi ada temannya."
Lalu Baby Ais punya ide. Ia mengambil kertas dan krayon, dan menggambar sesuatu: Umi tersenyum, di bawah matahari besar, dengan tulisan cakar ayam "CPT SMBH UMI".
"Cepat sembuh, Umi," Baby Ais membaca tulisannya sendiri dengan bangga.
Dari dapur, harum sup ayam mulai tercium. Abi membawa mangkuk sup yang mengepul. Baby Mo meniup-niup supnya supaya tidak terlalu panas. Fuuh, fuuh.
Siang itu rumah sangat tenang. Baby Mo dan Baby Ais berbicara dengan berbisik-bisik supaya Umi bisa tidur. Mereka bermain di lantai dengan sangat pelan, seperti dua tikus kecil.
Setiap kali lewat kamar, mereka berbisik bersama, "Umi istirahat, kami yang jaga. Umi istirahat, kami yang jaga."
Sore harinya, Umi duduk di kasur. Wajahnya sudah lebih segar. "Rasanya Umi sudah agak baikan," katanya. "Mungkin karena dirawat oleh dua perawat terbaik di dunia."
Baby Mo dan Baby Ais naik ke kasur dan memeluk Umi pelan-pelan, hati-hati sekali.
Abi berkata, "Kalian tahu? Ada orang yang bertanya kepada Rasulullah ﷺ, siapa yang paling berhak kita perlakukan dengan baik."
"Ibumu." Orang itu bertanya, "Kemudian siapa?" Beliau menjawab, "Ibumu." "Kemudian siapa?" "Ibumu." "Kemudian siapa?" "Kemudian ayahmu." (HR. Bukhari 5971, Muslim 2548)
"Tiga kali Ibu!" seru Baby Ais sambil mengacungkan tiga jari.
"Hari ini kalian sudah berbuat baik kepada Umi, tiga kali, empat kali, banyak kali," kata Abi.
Malam itu, giliran Umi yang berbisik kepada mereka sebelum tidur, "Terima kasih sudah merawat Umi. Umi sayang kalian."
Ngobrol bareng si kecil: kalau ada anggota keluarga yang sakit, kebaikan kecil apa yang bisa kita lakukan untuknya? 💐

Masya Allah, ceritanya selesai! ⭐
Hebat! Sekarang coba ceritakan lagi ke Umi atau Abi dengan kata-katamu sendiri.
📖 Cerita berikutnya: Pertama Kali ke Masjid →Untuk Ayah & BundaSumber, derajat, peninjau, dan tips
Terkait cerita ini
Hadis
Ibu, ibu, ibu — kemudian ayah
Baca ceritanya →
Catatan lain