Lewati ke konten
Baby Mo

Draf cerita untuk buku Baby Mo

Baby MoCerita Anak3 November 2026·5 menit baca

Pertama Kali ke Masjid

✨ Adzan Maghrib terdengar

Baby Mo ikut Abi sholat Maghrib di masjid untuk pertama kali. Masjidnya besar, karpetnya merah, dan semua orang diam. Bisakah Baby Mo juga tenang?

Sore itu langit berwarna jingga. Dari kejauhan terdengar adzan Maghrib: "Allahu Akbar, Allahu Akbar…"

"Mo, mau ikut Abi ke masjid?" tanya Abi.

Mata Baby Mo membulat. Ia belum pernah sholat di masjid! Ia cepat-cepat memakai baju koko putih dan peci kecilnya yang miring sedikit.

Di depan masjid ada rak sepatu panjang. Baby Mo melepas sandalnya dan menaruhnya rapi, berjejer dengan sandal-sandal besar.

"Masuk masjid pakai kaki kanan dulu, ya," bisik Abi. "Sambil berdoa."

Baby Mo melangkahkan kaki kanannya dengan hati-hati, seolah-olah masuk ke istana.

Di dalam, masjidnya besar sekali. Langit-langitnya tinggi. Lampu-lampu kuning bergantung dan berayun pelan. Karpetnya merah dengan garis-garis emas yang lurus seperti jalan.

Dan semua orang diam. Ada yang duduk berdzikir. Ada yang sholat sunnah. Tidak ada yang berlari. Tidak ada yang berteriak.

Baby Mo ingin sekali berlari di karpet yang luas itu. Kakinya gatal. Tapi ia ingat pesan Abi di jalan tadi: "Masjid itu rumah Allah. Di rumah Allah, kita jalan pelan, bicara pelan."

Baby Mo berbisik pada dirinya sendiri, "Langkah pelan, suara pelan, di rumah Allah aku sopan. Langkah pelan, suara pelan, di rumah Allah aku sopan."

Iqamah berkumandang. Semua orang berdiri dan merapatkan barisan, bahu ke bahu. Baby Mo berdiri di samping Abi, di barisan yang lurus seperti garis emas di karpet.

"Allahu Akbar," kata imam.

Baby Mo mengangkat tangannya seperti Abi. Ia ruku seperti Abi. Ia sujud seperti Abi. Dahinya menyentuh karpet yang lembut dan wangi.

Di rakaat kedua, Baby Mo lupa sedang di mana. Ia ingin melihat lampu yang berayun. Ia hampir menoleh… tapi ia melihat kaki Abi di sampingnya, tetap diam dan tenang. Baby Mo kembali menunduk.

"Assalamu'alaikum warahmatullah," kata imam. Sholat selesai.

Seorang kakek berjenggot putih di sebelah Baby Mo tersenyum dan mengelus kepalanya. "Masya Allah, anak kecil sholat berjamaah. Hebat sekali."

Baby Mo tersipu sampai telinganya merah.

Di jalan pulang, Baby Mo menggandeng tangan Abi. "Abi, kenapa kita harus sholat di masjid? Di rumah juga bisa, kan?"

"Bisa," kata Abi. "Tapi sholat bersama-sama itu istimewa. Rasulullah ﷺ bersabda:"

"Sholat berjamaah lebih utama daripada sholat sendirian dengan dua puluh tujuh derajat." (HR. Bukhari 645, Muslim 650)

"Dua puluh tujuh!" Baby Mo mencoba menghitung dengan jarinya, tapi jarinya tidak cukup. "Banyak sekali, Abi!"

Malam itu Baby Mo bercerita kepada Baby Ais dan Umi tentang lampu yang berayun, karpet merah, dan kakek yang mengelus kepalanya. "Besok aku mau ke masjid lagi," katanya. "Langkah pelan, suara pelan."

Ngobrol bareng si kecil: apa saja adab di masjid yang kamu ingat? Yuk, latihan masuk masjid dengan kaki kanan! 🕌

Masya Allah, ceritanya selesai! ⭐

Hebat! Sekarang coba ceritakan lagi ke Umi atau Abi dengan kata-katamu sendiri.

📖 Cerita berikutnya: Istana Pasir yang Roboh →
Tema:AdabMengenal Allah
Untuk Ayah & BundaSumber, derajat, peninjau, dan tips

Terkait cerita ini

Doa

Doa Masuk Masjid

Baca ceritanya →


Catatan lain