Draf cerita untuk buku Baby Mo
Senyum untuk Bu Sayur
Di pasar, ibu penjual sayur tampak cemberut dan lelah. Baby Ais tidak punya uang untuk diberikan. Tapi ia punya sesuatu yang lain…
Sabtu pagi, Umi mengajak Baby Ais dan Baby Mo ke pasar. Pasarnya ramai sekali. Ada tenda merah, tenda biru, dan tenda kuning seperti payung raksasa.
Baby Ais memegang ujung baju Umi erat-erat. Ia suka pasar. Baunya campur-campur: wangi jeruk, bau ikan, dan harum kue pandan.
"Kita beli tomat dan wortel di Bu Sayur, ya," kata Umi.
Bu Sayur duduk di balik tumpukan tomat merah. Tapi hari ini wajahnya tidak seperti biasa. Alisnya turun. Mulutnya datar. Ia menghitung uang kembalian sambil menghela napas panjang.
"Umi," bisik Baby Ais, "Bu Sayur kenapa?"
"Mungkin capek, Sayang. Bu Sayur berangkat ke pasar sebelum subuh."
Baby Ais memandangi Bu Sayur lama sekali. Ia ingin membantu. Tapi ia tidak punya uang. Ia tidak bisa mengangkat karung wortel. Ia bahkan belum bisa menghitung kembalian.
Lalu ia ingat kata-kata Abi waktu makan malam kemarin: "Senyum itu sedekah, lho. Sedekah yang tidak perlu uang."
Baby Ais menarik napas. Ia melangkah maju, sampai kepalanya tepat di depan tumpukan tomat.
Lalu ia tersenyum. Senyum paling lebar yang ia punya. Sampai pipinya naik dan matanya menyipit.
"Assalamu'alaikum, Bu Sayur!"
Bu Sayur mendongak. Untuk sesaat ia diam saja. Lalu… sudut bibirnya bergerak. Sedikit. Lalu lebih banyak. Lalu ia tersenyum juga!
"Wa'alaikumussalam, cantik," katanya. Suaranya jadi lembut.
Senyum itu menular seperti tawa. Baby Mo ikut tersenyum. Umi tersenyum. Bahkan bapak penjual ikan di sebelah ikut tersenyum, entah kenapa.
Baby Ais berbisik pada dirinya sendiri, "Senyum kecil, sedekah besar. Senyum kecil, sedekah besar."
Bu Sayur memilihkan tomat yang paling merah dan wortel yang paling lurus. Lalu ia menambahkan sesuatu ke dalam kantong: satu buah jeruk.
"Ini untuk yang punya senyum paling manis di pasar hari ini," katanya.
Di jalan pulang, Baby Ais memegang jeruk itu dengan dua tangan seperti memegang harta karun.
"Umi, aku sedekah pakai senyum, terus dapat jeruk," katanya heran.
Umi tertawa. "Kebaikan itu memang suka kembali, Sayang. Rasulullah ﷺ bersabda:"
"Senyummu di hadapan saudaramu adalah sedekah bagimu." (HR. Tirmidzi 1956)
Sejak hari itu, setiap ke pasar, Baby Ais punya tugas penting. Sebelum membeli apa-apa, ia membagikan senyum dulu. Satu untuk Bu Sayur. Satu untuk bapak ikan. Satu untuk ibu kue pandan. Gratis, dan tidak pernah habis.
Ngobrol bareng si kecil: siapa yang bisa kita beri senyum hari ini? Yuk, hitung berapa senyum yang kamu bagikan sebelum tidur! 😊

Masya Allah, ceritanya selesai! ⭐
Hebat! Sekarang coba ceritakan lagi ke Umi atau Abi dengan kata-katamu sendiri.
📖 Cerita berikutnya: Anak Kucing di Bawah Hujan →Untuk Ayah & BundaSumber, derajat, peninjau, dan tips
Terkait cerita ini
Doa
Doa Masuk Pasar
Baca ceritanya →
Catatan lain
Monster Gigi Takut Sikat
Baby Mo tidak mau sikat gigi malam ini. Tapi Abi bilang ada monster kecil yang sedang berpesta di mulutnya…
Baby Mo & Baby AisAnak Kucing di Bawah Hujan
Ada suara kecil 'meong' dari kardus basah di depan rumah. Baby Mo dan Baby Ais harus memutuskan: masuk ke rumah yang hangat, atau menolong?