Draf cerita untuk buku Baby Mo
Awan Petir di Dada Baby Ais

Puzzle unta Baby Ais tinggal satu keping lagi — lalu, vrooom, semuanya berantakan. Ada awan petir yang tumbuh di dadanya.
Baby Ais sedang menyusun puzzle unta. Dua puluh keping! Tinggal satu lagi — punuknya.
Lalu datanglah Baby Mo dengan pesawat mainannya. "Vrooom! Vrooom!"
Kaki Baby Mo menyenggol meja. Kepingan puzzle beterbangan ke mana-mana. Unta yang hampir jadi itu… hilang.
Baby Ais diam. Lalu ada yang aneh di dadanya. Panas. Berat. Bergemuruh. Seperti ada awan petir yang tumbuh di dalam sana, makin besar, makin gelap.
Tangannya mengepal. Ia berdiri, memungut satu keping, dan mengangkatnya tinggi-tinggi, siap dilempar ke arah Baby Mo.
"Ais," panggil Abi dari pintu. Pelan. Tidak marah.
Baby Ais berhenti, tangannya masih di atas.
"Awannya sebesar apa?" tanya Abi.
Baby Ais membentangkan kedua tangannya selebar-lebarnya. "SEBESAR INI!"
Abi mengangguk. "Itu awan yang besar sekali. Mau Abi ajari cara Rasulullah mengecilkan awan seperti itu?"
Baby Ais mengangguk sedikit. Sedikit saja.
"Pertama: kalau marah sambil berdiri, duduk dulu," kata Abi. Baby Ais duduk di lantai. Awannya masih besar, tapi tidak bisa ke mana-mana.
"Kedua: tarik napas, pelan-pelan, sampai perutmu kembung seperti balon." Baby Ais menarik napas. Fuuuh.
"Ketiga: minta tolong sama Allah. A'uudzu billaahi minasy-syaithaanir-rajiim."
Baby Ais mengulanginya, pelan-pelan. A'uudzu billaahi minasy-syaithaanir-rajiim.
Awannya… mengecil. Dari sebesar kamar, jadi sebesar bantal.
Duduk. Tarik napas. A'uudzu billah.
Dari sebesar bantal, jadi sebesar apel.
Duduk. Tarik napas. A'uudzu billah.
Sekarang tinggal gerimis kecil di matanya. Baby Ais mengusapnya.
Lalu ia menoleh ke Baby Mo, yang sejak tadi berdiri kaku memeluk pesawatnya. Suaranya masih bergetar, tapi jelas: "Mo. Aku marah. Puzzle-ku berantakan."
Baby Mo menunduk. "Maaf, Ais. Aku nggak lihat." Lalu ia berjongkok dan mulai memungut kepingan satu per satu. "Aku bantu susun lagi, ya?"
Mereka menyusunnya berdua. Kali ini lebih cepat, karena ada empat tangan. Keping terakhir — punuk unta — Baby Mo memberikannya pada Baby Ais. "Kamu yang pasang."
Klik. Untanya utuh.
Sore itu, menara balok Baby Mo roboh disenggol kucing. Wajahnya memerah, tangannya mulai mengepal.
Baby Ais buru-buru datang dan duduk di sampingnya. "Mo," bisiknya, "awannya sebesar apa?"
A'uudzu billaahi minasy-syaithaanir-rajiim. — "Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk." Rasulullah ﷺ mengajarkannya untuk orang yang sedang marah. (HR. Bukhari 3282, Muslim 2610)
Ngobrol bareng si kecil: kalau kamu marah, awannya biasanya sebesar apa? Yuk latihan bertiga sekarang — duduk, tarik napas, A'uudzu billah. ⛈️

Masya Allah, ceritanya selesai! ⭐
Hebat! Sekarang coba ceritakan lagi ke Umi atau Abi dengan kata-katamu sendiri.
📖 Cerita berikutnya: Membantu Umi Bikin Kue →Untuk Ayah & BundaSumber, derajat, peninjau, dan tips
Terkait cerita ini
Doa
Doa Ketika Marah
Baca ceritanya →
Catatan lain
Pelukan Tidak Pernah Habis
Sepupu bayi datang menginap, dan Umi menggendongnya sepanjang hari. "Aku juga bayi!" teriak Baby Mo. Apakah sayang Umi bisa habis?
Baby Mo & Baby AisPasukan Pemungut Sampah
Seekor burung kecil mematuk bungkus plastik di taman. Baby Mo dan Baby Ais memutuskan sesuatu — dan taman itu tidak pernah sama lagi.