Ada seorang raja yang sudah tua dan ingin menyerahkan kekuasaannya. Dia memanggil rakyatnya dan berkata: "Siapa yang sanggup tiga hal ini — berpuasa setiap hari, sholat malam (qiyam), dan tidak marah saat memerintah — akan kuangkat jadi penggantiku."
Semua diam. Tiga hal itu berat. Tiba-tiba seorang pemuda berdiri: "Saya sanggup, ya Raja." Pemuda itu Dzulkifli. Raja tidak yakin: "Kamu masih muda. Bisa kamu lakukan?" Dzulkifli mengangguk.
Saat menjadi raja, Dzulkifli memenuhi tiga janjinya. Puasa setiap hari. Sholat malam selalu. Tidak marah saat memutuskan perkara, meski rakyat datang silih berganti dengan masalah.
Suatu hari, ada orang yang sengaja datang berkali-kali, di waktu istirahat Dzulkifli, hanya untuk membuatnya marah. Tapi Dzulkifli tetap melayaninya dengan sabar.
Allah memuji Dzulkifli dalam Al-Qur'an: "Dan ingatlah Isma'il, Ilyasa', dan Dzulkifli. Semuanya termasuk orang-orang yang paling baik." (QS. Sad: 48)
Nama "Dzulkifli" sendiri berarti "yang memiliki bagian" — yaitu yang sanggup menanggung beban besar.
Untuk anak: jangan janji yang tidak bisa ditepati. Tapi kalau sudah berjanji, tepati — meski berat.