Saat Musa dipanggil Allah untuk menghadap Fir'aun, dia merasa lidahnya kelu — dia memang sedikit gagap sejak kecil. Musa berdoa: "Ya Tuhanku, lapangkanlah dadaku, lancarkan urusanku, dan lepaskanlah simpul dari lidahku. Jadikan Harun saudaraku sebagai pembantuku." (QS. Taha: 25–30)
Allah mengabulkan. Harun, yang fasih bicaranya, diangkat menjadi nabi dan diutus mendampingi Musa. Bersama mereka berdua menghadap Fir'aun.
Saat Musa pergi ke Gunung Sinai untuk menerima Taurat (40 hari), dia menitipkan Bani Israil kepada Harun: "Gantikan aku di tengah kaumku. Perbaiki, dan jangan ikuti jalan orang yang berbuat kerusakan."
Tapi saat itu, seseorang bernama Samiri membuat patung anak sapi dari emas dan mengaku itulah tuhan Bani Israil. Banyak yang ikut menyembah. Harun mencoba menasihati: "Sungguh kalian hanya diuji. Tuhan kalian sebenarnya adalah Yang Maha Pengasih. Ikutilah aku."
Sebagian besar menolak. Mereka mengancam Harun. Saat Musa kembali dan marah, Harun berkata: "Wahai anak ibuku, jangan pegang janggutku dan jangan tarik rambutku. Aku takut kamu akan berkata 'kamu telah memecah belah Bani Israil.'"
Musa menyadari Harun benar — dia memilih bertahan tanpa pertumpahan darah daripada bertindak keras.