Lewati ke konten
Baby Mo

Draf cerita untuk buku Baby Mo

Baby Mo & Baby AisCerita Anak3 November 2026·5 menit baca

Istana Pasir yang Roboh

✨ Liburan ke pantai!

Baby Mo membangun istana pasir paling tinggi di pantai. Lalu — buk! — Baby Ais tersandung dan istananya roboh. Akankah Baby Mo memaafkan?

Liburan ke pantai! Ombak berbunyi syuuu… syuuu… Pasirnya hangat dan lembut seperti tepung.

Baby Mo langsung tahu apa yang mau ia buat: istana pasir. Bukan istana biasa. Istana paling tinggi di seluruh pantai!

Ia mengisi ember merah dengan pasir basah, menepuk-nepuknya, lalu membaliknya. Plok! Satu menara jadi. Plok! Dua menara. Plok! Tiga menara.

Abi membantu membuat parit di sekelilingnya. Umi menancapkan bendera kecil dari kertas merah di menara paling atas.

"Ini Istana Baby Mo," kata Baby Mo bangga. "Tidak ada yang boleh merusaknya."

Sementara itu, Baby Ais sedang mengejar kepiting kecil yang berjalan menyamping. Ke kiri, ke kanan, ke kiri lagi. Baby Ais tertawa dan berlari mengikutinya.

Kepiting itu berlari ke arah istana. Baby Ais berlari ke arah istana. Dan kaki Baby Ais tersandung ember…

BUK!

Baby Ais jatuh tepat di atas istana pasir. Menara-menaranya roboh. Benderanya terlempar. Istana paling tinggi di seluruh pantai sekarang hanya gundukan pasir.

Baby Mo terdiam. Lalu wajahnya memerah. "AIS! Istanaku!"

Baby Ais duduk di atas pasir dengan mata berkaca-kaca. "Maaf, Mo… aku nggak sengaja… aku ngejar kepiting…"

Baby Mo mengepalkan tangannya. Ia marah sekali. Ia ingin berteriak lagi. Ia bahkan ingin melempar pasir.

Umi datang dan berlutut di samping Baby Mo. "Mo, marah itu boleh. Ayo tarik napas dulu, panjang-panjang. Hirup… hembuskan…"

Baby Mo menarik napas. Hiiiirup. Huuuuh. Sekali lagi. Hiiiirup. Huuuuh.

Ia melihat Baby Ais. Adiknya menangis pelan sambil memunguti bendera kertas yang terlempar, mencoba memasangnya lagi di gundukan pasir yang miring.

Pelan-pelan, marah di dada Baby Mo mengecil, seperti ombak yang mundur ke laut.

Baby Mo berjalan ke arah Baby Ais. "Ais… aku maafin."

Baby Ais mendongak. "Beneran?"

"Beneran. Tapi kamu harus bantu aku bikin istana baru," kata Baby Mo. "Yang lebih tinggi!"

Baby Ais tersenyum lebar di antara air matanya. "Iya! Aku yang ambil air!"

Mereka membangun bersama. Baby Mo menepuk-nepuk pasir. Baby Ais mengangkut air laut dengan ember kecil. Sambil bekerja, mereka bernyanyi, "Roboh satu, bangun dua. Marah pergi, maaf tiba!"

Istana kedua lebih tinggi dari yang pertama. Dan karena dibangun berdua, istana itu punya dua bendera.

Umi duduk di samping mereka dan berkata, "Kalian tahu? Allah sangat mencintai orang yang bisa menahan marah dan memaafkan."

"…dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan." (QS. Ali 'Imran: 134)

Sore itu, ombak pasang pelan-pelan datang dan membawa istana kedua ke laut. Tapi Baby Mo tidak marah lagi. Ia hanya melambaikan tangan. "Dadah, istana! Besok kami bikin lagi!"

Ngobrol bareng si kecil: apa yang bisa kita lakukan waktu sedang marah, sebelum kita memaafkan? Yuk, latihan tarik napas panjang bersama! 🏰

Masya Allah, ceritanya selesai! ⭐

Hebat! Sekarang coba ceritakan lagi ke Umi atau Abi dengan kata-katamu sendiri.

📖 Cerita berikutnya: Kemah di Halaman Belakang →
Tema:Persaudaraan
Untuk Ayah & BundaSumber, derajat, peninjau, dan tips

Terkait cerita ini

Parenting

Rivalitas Antar Saudara

Baca ceritanya →


Catatan lain