Baby Ais si pengaduk adonan

Umi butuh dapur cepat selesai. Tapi membiarkan Baby Ais 'membantu' ternyata lebih berharga.
Umi lagi buru-buru bikin adonan. Baby Ais menarik-narik celemek Umi, mau ikut. Cara cepat: bilang "nanti ya, Umi sibuk." Tapi Umi berhenti sebentar dan berpikir.
Umi kasih dia mangkuk kecil dan sendok kayu. "Ini tugas Ais: aduk yang ini." Adonannya berantakan, tepung ke mana-mana, dan dapur jadi dua kali lebih lama beres. Tapi wajah Baby Ais — merasa berguna — itu tidak ada harganya.
Anak yang dibiarkan membantu tumbuh merasa "aku bagian dari keluarga ini, aku punya peran." Anak yang selalu disuruh minggir karena "lebih cepat sendiri" tumbuh merasa jadi penonton. Berantakan hari ini adalah investasi rasa berguna besok.
Sebaik-baik kalian adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. (HR. Ath-Thabrani dalam Al-Mu'jam Al-Ausath; dinilai hasan oleh Al-Albani)
Kue itu sedikit bantat. Tapi Baby Ais makan dengan bangga karena "Ais yang bikin." Dan jujur, itu kue terenak yang Umi makan minggu ini.
Terkait cerita ini
Parenting
Mengajarkan Adab Sehari-Hari
Baca ceritanya →
Catatan lain
Pelukan Tidak Pernah Habis
Sepupu bayi datang menginap, dan Umi menggendongnya sepanjang hari. "Aku juga bayi!" teriak Baby Mo. Apakah sayang Umi bisa habis?
Baby Mo & Baby AisPasukan Pemungut Sampah
Seekor burung kecil mematuk bungkus plastik di taman. Baby Mo dan Baby Ais memutuskan sesuatu — dan taman itu tidak pernah sama lagi.