Allah mengutus Nabi Yunus ke kota Niniwe, kota yang sangat besar di tanah Asyur. Penduduknya sekitar 100.000 orang dan mereka menyembah berhala. Yunus berdakwah dengan keras, tapi mereka menolak.
Setelah lama tidak ada yang beriman, Yunus marah. Dia meninggalkan kota tanpa menunggu perintah Allah. Dia naik kapal dan pergi.
Saat di laut, badai besar datang. Kapal hampir tenggelam. Para penumpang mengundi siapa yang harus dilemparkan ke laut untuk meringankan kapal. Undian jatuh pada Yunus. Mereka mengulang tiga kali — tetap jatuh pada Yunus. Akhirnya dia dilempar ke laut.
Allah mengirim seekor ikan besar (nun/paus) yang menelan Yunus utuh-utuh. Di dalam perut ikan, di tiga kegelapan (kegelapan perut ikan, kegelapan laut, kegelapan malam), Yunus berdoa:
لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ
"Tidak ada tuhan selain Engkau. Mahasuci Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim."
Allah mendengar dan menyelamatkannya. Ikan itu mengeluarkan Yunus di pantai. Sementara itu, Allah membuka hati penduduk Niniwe. Semuanya beriman — kota yang tidak mau mendengar Yunus, kini mencari-cari Yunus untuk diajari.
Untuk anak: kalau marah dan ingin lari dari masalah, ingat Yunus. Lari tidak menyelesaikan apa-apa. Kembali kepada Allah, dengan rendah hati, selalu jadi pintu keluar.