Nabi Syu'aib diutus kepada kaum Madyan — kota perdagangan yang strategis di jalur antara Hijaz dan Syam. Mereka kaya dari berdagang, tapi suka curang: mengurangi takaran dan timbangan, menipu pembeli, merampok pelancong.
Syu'aib berkata: "Sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Janganlah kamu rugikan manusia pada hak-haknya." (QS. Hud: 85). Dia juga mengajak mereka menyembah Allah saja.
Mereka menjawab dengan ejekan: "Apakah sembahyangmu yang menyuruh kamu mengajari kami meninggalkan apa yang disembah nenek moyang kami, atau melarang kami berbuat apa yang kami kehendaki tentang harta kami?"
Syu'aib tetap sabar berdakwah. Dia bilang: "Aku tidak ingin menyalahi kalian dalam apa yang aku larang dari kalian. Aku hanya ingin perbaikan sebatas kemampuanku."
Mereka tetap menolak. Akhirnya Allah mengirim gempa bumi dahsyat. Kota Madyan hancur dalam semalam. Hanya Syu'aib dan pengikutnya yang selamat.
Karena kefasihan dan kesabarannya berdakwah, Syu'aib mendapat julukan "Khatibul Anbiya" — Pengkhotbah para Nabi.
Untuk anak: jujur dalam transaksi sekecil apa pun — kembalian, timbangan, janji, antrian — adalah ibadah.