Draf cerita untuk buku Baby Mo
Teman Baru di Kelas Baru

Baby Mo naik ke kelas yang lebih besar. Tapi pagi itu kakinya terasa berat — bagaimana kalau tidak ada yang mau berteman dengannya?
Hari ini istimewa. Baby Mo tidak lagi pergi ke kelompok bermain yang kecil dan akrab itu — hari ini ia naik ke kelas yang lebih besar, kelas anak-anak yang sudah lebih besar. Taman Kanak-kanak!
Tapi anehnya, pagi itu kaki Baby Mo terasa berat seperti diisi pasir. Ia berpegangan erat pada ujung baju Umi di depan gerbang sekolah yang baru.
"Umi," bisiknya, "bagaimana kalau teman-teman lamaku tidak ada di sini? Bagaimana kalau… tidak ada yang mau bermain denganku?"
Umi berjongkok. Ia merapikan rambut Baby Mo yang sedikit berantakan. "Dengar, jagoan. Dulu teman-teman lamamu juga awalnya orang asing, kan? Lalu jadi sahabat. Begitu juga teman-teman barumu nanti."
Baby Mo menunduk, belum yakin.
"Umi ajari satu rahasia," lanjut Umi. "Tahu cara paling mudah membuka pintu hati seseorang? Ucapkan salam. 'Assalamualaikum.' Artinya, 'semoga keselamatan untukmu'. Itu doa, sayang. Kamu mendoakan teman barumu sebelum kalian sempat saling kenal."
Baby Mo mengangkat wajahnya sedikit. "Cuma… salam?"
"Cuma salam. Dan satu senyum. Bismillah, ya."
Baby Mo menarik napas dalam-dalam, seperti hendak menyelam. "Bismillah," gumamnya. Lalu ia melangkah masuk.
Di dalam, ada seorang anak laki-laki yang duduk sendirian di pojok, memeluk lututnya. Wajahnya murung. Sepertinya ia juga sedang berpikir, "bagaimana kalau tidak ada yang mau berteman denganku?"
Baby Mo teringat rahasia Umi. Jantungnya berdebar. Ia berjalan mendekat, pelan-pelan, lalu dengan suara yang sedikit gemetar berkata, "Assalamualaikum. Aku Baby Mo. Mau main bareng?"
Anak itu mendongak. Matanya yang tadi sendu perlahan berbinar. "Wa… waalaikumsalam," jawabnya. "Aku Faiz." Dan ia tersenyum — senyum lega seorang anak yang baru saja ditemukan.
Ternyata, di balik wajah murung tadi, Faiz hanya butuh satu orang yang berani menyapa lebih dulu.
Hari itu mereka membangun menara balok bersama, berbagi krayon, dan tertawa sampai Bu Guru harus mengingatkan agar tidak terlalu ramai. Saat dijemput, Baby Mo berlari ke arah Umi dengan wajah berseri-seri.
"Umi! Rahasianya berhasil! Aku punya teman baru namanya Faiz! Tadinya dia sedih sendirian, tapi aku ucapkan salam dulu — seperti kata Umi!"
Umi memeluknya erat. "Masya Allah. Lihat? Satu salam kecilmu tadi bukan cuma membuatmu punya teman. Tapi juga membuat hari Faiz jadi lebih cerah."
Baby Mo tersenyum bangga. Ternyata, kelas baru itu tidak menakutkan. Ia hanya butuh keberanian sebesar satu kata: salam.
Sebarkanlah salam, niscaya kalian saling mencintai.
Sekarang, kalau si kecil bertemu teman baru besok, ajak ia mencoba rahasia Baby Mo: ucapkan "Assalamualaikum" dengan satu senyum. Pintu pertemanan akan terbuka. 🤝🌟
Terkait cerita ini
Doa
Mengucap Salam
Baca ceritanya →
Catatan lain
Stoples Liburan Baby Mo
Hari pertama libur, Baby Mo berkata, "Bosaaan." Lalu Umi mengeluarkan sebuah stoples ajaib berisi kertas-kertas kecil.
Baby Mo & Baby AisBulan yang Mengikuti Baby Mo
Sepanjang perjalanan pulang, bulan terus mengikuti mobil. Apakah bulan benar-benar teman Baby Mo? Dan kenapa kita harus tidur, sih?