Draf cerita untuk buku Baby Mo
Stoples Liburan Baby Mo

Hari pertama libur, Baby Mo berkata, "Bosaaan." Lalu Umi mengeluarkan sebuah stoples ajaib berisi kertas-kertas kecil.
Hari pertama libur sekolah, matahari bersinar cerah, tapi Baby Mo justru berguling-guling di sofa sambil mengeluh, "Bosaaan. Mau ngapain, Umi?"
Baby Ais menirukan kakaknya, ikut berguling, "Bosaaan juga."
Umi tersenyum. Ia masuk ke dapur dan kembali membawa sebuah stoples kaca yang penuh dengan gulungan kertas kecil berwarna-warni. "Ini," katanya, "Stoples Liburan. Setiap kertas ada satu kejutan kegiatan. Tapi ada satu aturan: setiap kegiatan kita mulai dengan… apa hayo?"
"Bismillah!" seru Baby Mo dan Baby Ais bersamaan.
"Pintar!" Umi mengangguk. "Ayo, siapa yang mau ambil pertama?"
Baby Mo melompat. Tangannya yang mungil mengaduk-aduk stoples, lalu menarik satu gulungan. Ia membukanya pelan-pelan, seperti membuka harta karun. "Me… na… nam… biji!" ejanya.
Maka pagi itu mereka menanam biji kacang hijau di gelas plastik bekas. "Bismillah," kata Baby Mo sebelum menaruh bijinya di atas kapas basah. "Tumbuh yang tinggi, ya," bisik Baby Ais pada bijinya, seakan biji itu bisa mendengar.
Siangnya, kertas kedua bertuliskan "Telepon Nenek". Baby Mo bercerita panjang lebar tentang bijinya, dan suara Nenek di seberang tertawa hangat. "Itu namanya silaturahmi," kata Umi. "Allah suka kalau kita menyambung kasih sayang dengan keluarga."
Hari-hari berikutnya, stoples itu seperti tak pernah kehabisan kejutan. Ada "Hari Membaca" — mereka meringkuk di bawah selimut sambil mendengar kisah para nabi. Ada "Bantu Umi" — Baby Ais melap meja sampai mengkilap, dan Baby Mo membereskan mainannya sambil bernyanyi. Ada "Sedekah Kecil" — mereka memasukkan beberapa koin ke kotak amal masjid, dan dada Baby Mo terasa hangat dengan cara yang lucu.
Suatu sore, kertas yang keluar bertuliskan "Lihat Ciptaan Allah". Mereka pergi ke taman. Baby Mo menengadah memandang awan yang berarak seperti domba-domba putih. "Umi, yang bikin awan siapa?" tanyanya.
"Allah," jawab Umi.
"Yang bikin angin?"
"Allah."
"Yang bikin… Baby Ais bawel?" Baby Mo terkikik, dan Baby Ais mengejarnya keliling taman sambil tertawa.
Malam terakhir liburan, biji kacang hijau mereka sudah tumbuh menjadi tunas hijau mungil yang menjulur ke arah jendela. Baby Mo memandanginya takjub. Liburan yang tadinya terasa "bosaaan" ternyata penuh — bukan penuh layar dan teriakan, tapi penuh tawa, biji yang tumbuh, dan Bismillah di setiap awalnya.
"Umi," kata Baby Mo sambil menguap, "besok masih ada kertasnya?"
Umi menyelimutinya. "Selalu ada, sayang. Karena hari yang dimulai bersama Allah, tidak pernah benar-benar membosankan."
Sebaik-baik bekal liburan bukan mainan baru, tapi waktu bersama yang dimulai dengan nama Allah.
Sekarang, yuk buat Stoples Liburan-mu sendiri bersama si kecil. Tulis kegiatan-kegiatan kecil, gulung, dan masukkan ke stoples. Jangan lupa: setiap kegiatan dimulai dengan "Bismillah!" 🫙✨
Terkait cerita ini
Parenting
Menanam Rasa Syukur
Baca ceritanya →
Catatan lain
Teman Baru di Kelas Baru
Baby Mo naik ke kelas yang lebih besar. Tapi pagi itu kakinya terasa berat — bagaimana kalau tidak ada yang mau berteman dengannya?
Baby Mo & Baby AisBulan yang Mengikuti Baby Mo
Sepanjang perjalanan pulang, bulan terus mengikuti mobil. Apakah bulan benar-benar teman Baby Mo? Dan kenapa kita harus tidur, sih?