Lewati ke konten
Baby Mo

Draf cerita untuk buku Baby Mo

Baby Mo & Baby AisCerita Anak22 Mei 2026Β·5 menit baca

Sepiring untuk Tetangga

Baby Mo

Umi membuat kolak paling enak sedunia. Tapi sebelum dimakan, ada satu kebiasaan kecil yang mengajarkan hal besar.

Wangi kolak pisang memenuhi seluruh rumah. Baby Mo dan Baby Ais sudah duduk manis di meja, sendok di tangan, mata berbinar.

Tapi Umi tidak langsung menghidangkannya. Ia menyiapkan satu mangkuk lagi, menutupnya rapi dengan kain bersih.

"Untuk siapa itu, Umi?" tanya Baby Mo, sedikit cemas mangkuknya berkurang.

"Untuk Nenek sebelah," jawab Umi. "Beliau tinggal sendirian. Kalau kita masak yang enak, kita bagi sedikit ke tetangga. Itu kebiasaan baik di rumah ini."

Baby Mo memandang mangkuk yang ditutup itu. Sejujurnya, ia ingin semuanya untuk dirinya. Tapi lalu ia teringat wajah Nenek sebelah yang selalu tersenyum saat mereka lewat.

"Mo yang antar!" serunya tiba-tiba.

Maka berangkatlah mereka bertiga. Baby Mo memegang mangkuk dengan dua tangan, hati-hati sekali, seolah membawa harta karun. Baby Ais mengetuk pintu, "Tok tok!"

Pintu terbuka. Wajah Nenek sebelah langsung berseri seperti matahari pagi. "Masya Allah! Untuk Nenek?"

Baby Mo mengangguk bangga. Nenek mengusap kepala keduanya, dan mendoakan sesuatu yang lembut β€” doa yang tidak sepenuhnya mereka mengerti, tapi terasa hangat sampai ke dada.

Di perjalanan pulang, Baby Mo merasa ada yang aneh. Mangkuknya sudah kosong, tapi hatinya justru terasa lebih penuh daripada sebelum berangkat.

"Umi," katanya, "berbagi itu… kenyang juga, ya?"

Umi tertawa lembut. "Itu kenyang yang paling enak, Sayang."

Jibril terus berpesan kepadaku tentang tetangga, hingga aku mengira ia akan menjadikannya ahli waris.

Malam itu kolaknya terasa dua kali lebih enak. Karena yang paling manis, ternyata, bukan gulanya β€” melainkan sepiring yang dibagi dengan tetangga.

Tema:AkhlakBerbagi

Terkait cerita ini

Hadis

Jibril selalu mewasiatkan kebaikan kepada tetangga

Baca ceritanya β†’


Catatan lain