Lewati ke konten
Baby Mo

Draf cerita untuk buku Baby Mo

Baby Mo & Baby AisCerita Anak7 Mei 2026·6 menit baca

Saat Ais Pergi ke Rumah Nenek

Baby Mo

Untuk pertama kalinya, Baby Ais menginap di rumah Nenek — tanpa Baby Mo. Satu hari terasa biasa saja… atau ternyata tidak?

Suatu hari, Nenek mengajak Baby Ais menginap satu malam di rumahnya. Hanya Baby Ais. Baby Mo tetap di rumah.

"Dah, Mo!" Baby Ais melambai riang dari mobil. Baby Mo melambai balik. "Dah, Ais!" Ia bahkan tersenyum lebar. Satu hari tanpa rebutan mainan? Asyik! Baby Mo membayangkan ia bisa memainkan SEMUA balok sendirian.

Pagi itu, Baby Mo bermain balok. Sendirian. Ia menyusun menara paling tinggi. Lalu ia menoleh ke samping untuk berkata "lihat!" — tapi tidak ada siapa-siapa di sana. "Oh iya," gumamnya. "Ais lagi di rumah Nenek."

Siang itu, Umi memberi dua potong biskuit. Refleks, Baby Mo menyimpan satu di tangan kirinya. "Buat Ais," katanya. Lalu ia ingat. Ais tidak ada. Pelan-pelan, ia memandang biskuit kedua itu dengan bingung.

Sore itu, ada anjing menggonggong di luar. Baby Mo agak takut, dan secara otomatis ia menoleh untuk menggenggam tangan saudarinya — tapi tangan itu tidak ada di sana.

Dan saat makan malam, meja terasa terlalu sepi. Tidak ada yang berkata "nyam-nyam". Tidak ada yang tertawa saat ia membuat wajah lucu. Tidak ada yang berebut kursi sebelahnya.

Malam tiba. Umi menyelimuti Baby Mo di kasurnya. Tapi kasur di sebelahnya — kasur bersprei bulan — kosong dan rapi.

Baby Mo memandanginya lama sekali. Lalu bibir kecilnya bergetar. "Umi," bisiknya pelan, "Mo… kangen Ais."

Umi duduk dan memeluknya. "Umi tahu, Sayang. Kadang kita baru sadar betapa kita menyayangi seseorang… justru saat ia sedang tidak ada."

"Padahal tadi pagi Mo senang," kata Baby Mo, bingung dengan perasaannya sendiri.

Umi tersenyum lembut. "Itu karena menyayangi saudara itu seperti udara, Sayang. Kita tidak selalu menyadarinya — sampai sebentar saja ia tidak ada."

Baby Mo memeluk boneka beruang milik Baby Ais, mencium baunya yang seperti adiknya, lalu tertidur sambil menggenggamnya.

Keesokan paginya — "MO!" Pintu terbuka dan Baby Ais berlari masuk. Baby Mo melompat dari kursinya dan keduanya berpelukan erat sekali, berputar-putar, tertawa, seakan sudah berpisah seratus tahun. "Ais! Ais pulang!"

"Mo kangen Ais?" tanya Umi sambil tersenyum.

Baby Mo mengangguk kuat-kuat. Lalu, untuk pertama kalinya, ia berkata sesuatu yang membuat Umi terharu: "Mo nggak mau main balok sendirian lagi. Lebih seru sama Ais."

Dan Dia menjadikan di antara kalian rasa kasih dan sayang.

Ternyata, mainan terbaik di dunia bukanlah menara balok yang paling tinggi. Mainan terbaik adalah saudara yang duduk di sebelahmu, ikut tertawa, bahkan saat berebut.

Selamat datang kembali, Baby Ais. Baby Mo, dan satu kasur yang lagi-lagi akan penuh malam ini, sudah menunggumu. 💛

Tema:PersaudaraanKasih SayangKeluarga

Terkait cerita ini

Hadis

Silaturahmi melapangkan rezeki dan memanjangkan umur

Baca ceritanya


Catatan lain