Draf cerita untuk buku Baby Mo
Rahasia Lebah dan Roti Madu

Sebelum menggigit roti madunya, Baby Mo bertanya: dari mana, sih, datangnya madu? Jawabannya membawanya pada seekor pahlawan kecil bergaris kuning-hitam.
Di meja makan, ada sepotong roti hangat yang diolesi madu keemasan. Baby Mo sudah siap menggigitnya. Tapi tiba-tiba ia berhenti dan bertanya, "Umi… madu ini datang dari mana?"
Umi tersenyum. "Dari seekor pahlawan kecil. Namanya: lebah."
Baby Mo membulatkan mata. "Lebah yang dengung-dengung itu?"
"Iya," kata Umi. "Dan dengarkan ini — untuk membuat madu sebanyak satu sendok saja yang ada di rotimu, seekor lebah harus mengunjungi ribuan bunga. Ribuan! Ia terbang dari bunga ke bunga, mengumpulkan sari manisnya sedikit demi sedikit, tanpa pernah mengeluh."
"Ribuan bunga?" Baby Mo memandang sesendok madunya dengan rasa hormat yang baru. Tadinya cuma madu. Sekarang ia tahu itu hasil kerja keras seekor makhluk mungil.
"Ada lagi yang lebih menakjubkan," lanjut Umi. "Kalau seekor lebah menemukan kebun bunga yang banyak, ia pulang ke sarang dan… menari! Ya, menari. Gerakan tariannya memberitahu teman-temannya ke arah mana harus terbang. Itulah cara lebah berkata, 'Teman-teman, makanan enak ada di sebelah sana!'"
Baby Mo terkikik membayangkan lebah-lebah berjoget. Lalu ia berbisik, setengah serius, "Berarti waktu lebah dengung 'zzzz', mungkin dia lagi bilang 'bismillaaah-zzz' sebelum kerja!" Umi tertawa. "Bisa jadi, Sayang."
"Dan kamu tahu," tambah Abi yang baru bergabung, "di dalam Al-Qur'an ada satu surat yang namanya An-Nahl — artinya 'Lebah'. Allah menyebut lebah secara khusus, dan mengabarkan bahwa dari perutnya keluar minuman bermacam warna yang ada obat untuk manusia. Madu kecil ini ternyata disebut di kitab yang paling mulia."
Baby Mo memandang rotinya — roti yang sama, tapi sekarang terasa istimewa. Begitu banyak perjalanan untuk satu gigitan: bunga, lebah, tarian, sarang, sampai ke mejanya.
"Jadi," kata Umi lembut, "sebelum makan, pantas sekali kita berhenti sebentar dan berterima kasih kepada Allah yang menciptakan semua itu. Yuk."
Baby Mo memegang rotinya dengan dua tangan, menarik napas, dan berkata dengan sungguh-sungguh:
Bismillah. Lalu, "Allahumma baarik lanaa fiimaa razaqtanaa…" — Ya Allah, berkahilah rezeki yang Engkau berikan kepada kami.
Gigitan pertama itu terasa paling manis seumur hidupnya. Bukan cuma karena madunya — tapi karena kini ia tahu betapa panjang dan ajaib perjalanan rezeki sampai ke tangannya.
Lain kali kamu makan madu, ingat ya: ada ribuan bunga dan seekor pahlawan kecil bergaris kuning-hitam di baliknya. Masya Allah. 🐝
Terkait cerita ini
Doa
Doa Sebelum Makan
Baca ceritanya →
🎬 Tonton lagunya di Baby Mo
Putar bersama si kecil setelah membaca ceritanya 🎵
Catatan lain
Bulan yang Mengikuti Baby Mo
Sepanjang perjalanan pulang, bulan terus mengikuti mobil. Apakah bulan benar-benar teman Baby Mo? Dan kenapa kita harus tidur, sih?
Baby Mo (2)Bismillah Dulu
Baby Mo selalu terburu-buru. Sampai ia menemukan satu kata kecil yang membuat semuanya terasa lebih berkah.