Lewati ke konten
Baby Mo

Draf cerita untuk buku Baby Mo

Baby Mo (2)Cerita Anak1 Juni 2026·5 menit baca

Menara yang Tak Mau Menyerah

Baby Mo

Lima kali menara Baby Mo roboh. Apakah ia akan menyerah, atau mencoba sekali lagi?

Baby Mo punya satu impian besar untuk anak sekecil dia: membangun menara balok yang lebih tinggi dari kepalanya sendiri.

Ia menumpuk balok merah. Lalu balok biru. Lalu balok kuning. Tinggi… lebih tinggi… dan—

BRUK!

Menara itu roboh berhamburan ke lantai. Baby Mo mengerucutkan bibir.

Ia mencoba lagi. Merah, biru, kuning, hijau. Tinggi… lebih tinggi…

BRUK!

Empat kali. Lima kali. Setiap kali, balok-balok itu jatuh seperti hujan kayu. Mata Baby Mo mulai berkaca-kaca. Ia ingin melempar semua baloknya jauh-jauh.

Dari sofa, Abi tidak ikut membereskan. Abi hanya berkata pelan, "Tarik napas, Sayang. Coba lihat — kenapa robohnya?"

Baby Mo mengusap matanya. Ia memperhatikan. Ternyata balok paling bawah selalu miring. Pelan-pelan, ia membetulkan yang bawah dulu. Diluruskannya. Ditekannya supaya kokoh.

"Bismillah," bisik Baby Mo.

Merah. Biru. Kuning. Hijau. Ungu. Tangannya gemetar, tapi ia tahan napas. Menara itu naik… naik… melewati dadanya… melewati dagunya… sampai—

Lebih tinggi dari kepalanya!

Baby Mo memekik girang. "Yeeey! Berdiri! Berdiri!" Ia bertepuk tangan untuk dirinya sendiri, lalu menoleh ke Abi, meminta tepuk tangan juga.

Abi bertepuk paling kencang di seluruh rumah. "Kamu tidak menyerah," kata Abi. "Itu lebih hebat daripada menaranya."

Baby Mo memandang menaranya yang menjulang. Ternyata roboh bukan berarti gagal. Roboh hanya berarti: ayo coba lagi, sedikit lebih sabar.

Sesungguhnya Allah mencintai seseorang yang apabila mengerjakan sesuatu, ia menyempurnakannya.

Dan menara yang tak mau menyerah itu berdiri sepanjang sore — sama seperti hati kecil yang membangunnya.

Tema:AkhlakSabar

Terkait cerita ini

Parenting

Mengajarkan Adab Sehari-Hari

Baca ceritanya


Catatan lain