Draf cerita untuk buku Baby Mo
Maaf yang Hangat

Baby Mo merobohkan istana pasir Baby Ais. Kata 'maaf' terasa berat — sampai ia menemukan cara mengucapkannya.
Di halaman belakang, Baby Ais sedang membangun istana pasir. Ada menara, ada parit, bahkan ada bendera dari daun kecil di puncaknya. Ia bangga sekali.
Baby Mo datang berlari, mengejar bola. Ia tidak melihat istana itu, dan—
BRAK! Kakinya menabrak istana pasir. Menara runtuh, parit rata, bendera daun terbang tertiup angin.
Baby Ais terdiam sebentar. Lalu bibirnya bergetar, dan air mata besar menggelinding di pipinya. "Istanaku…" isaknya.
Baby Mo ingin sekali lari bersembunyi. Dadanya terasa sesak. Kata "maaf" tersangkut di tenggorokannya, berat seperti batu.
Abi datang mendekat, tapi ia tidak memarahi Baby Mo. Abi berkata pelan, "Lihat wajah Ais, Sayang. Dia sedih. Apa yang bisa membuat hatinya hangat lagi?"
Baby Mo memandang adiknya yang menangis. Sesuatu di dalam dadanya ikut sakit. Pelan-pelan, ia berjalan mendekat. Ia tidak tahu harus berkata apa, jadi ia melakukan yang ia bisa: ia mengulurkan tangan dan mengusap kepala Baby Ais.
"Maaf, Ais," bisiknya akhirnya. Lalu ia jongkok di pasir. "Mo bantu bikin lagi, ya?"
Mata Baby Ais masih basah, tapi ia mengangguk. Dan di sanalah mereka berdua, dua tangan kecil membangun istana baru — kali ini bersama. Menaranya lebih tinggi. Paritnya lebih lebar. Dan benderanya dua, satu untuk masing-masing.
Maaf yang tulus, ternyata, tidak menghancurkan apa-apa. Ia justru membangun sesuatu yang lebih kuat dari sebelumnya.
"…dan tidaklah Allah menambah seorang hamba yang pemaaf melainkan kemuliaan." (HR. Muslim 2588)
Sore itu istana pasir berdiri lagi. Tapi yang paling kokoh bukan istananya — melainkan persaudaraan yang baru saja diperbaiki dengan satu kata hangat.

Masya Allah, ceritanya selesai! ⭐
Hebat! Sekarang coba ceritakan lagi ke Umi atau Abi dengan kata-katamu sendiri.
📖 Cerita berikutnya: Bintang-Bintang Rasa Syukur →Untuk Ayah & BundaSumber, derajat, peninjau, dan tips
Terkait cerita ini
Parenting
Mengajarkan Adab Sehari-Hari
Baca ceritanya →
Catatan lain
Pelukan Tidak Pernah Habis
Sepupu bayi datang menginap, dan Umi menggendongnya sepanjang hari. "Aku juga bayi!" teriak Baby Mo. Apakah sayang Umi bisa habis?
Baby Mo & Baby AisPasukan Pemungut Sampah
Seekor burung kecil mematuk bungkus plastik di taman. Baby Mo dan Baby Ais memutuskan sesuatu — dan taman itu tidak pernah sama lagi.