Lewati ke konten
Baby Mo

Draf cerita untuk buku Baby Mo

Baby Mo & Baby AisCerita Anak28 Mei 2026·5 menit baca

Maaf yang Hangat

Baby Mo

Baby Mo merobohkan istana pasir Baby Ais. Kata 'maaf' terasa berat — sampai ia menemukan cara mengucapkannya.

Di halaman belakang, Baby Ais sedang membangun istana pasir. Ada menara, ada parit, bahkan ada bendera dari daun kecil di puncaknya. Ia bangga sekali.

Baby Mo datang berlari, mengejar bola. Ia tidak melihat istana itu, dan—

BRAK! Kakinya menabrak istana pasir. Menara runtuh, parit rata, bendera daun terbang tertiup angin.

Baby Ais terdiam sebentar. Lalu bibirnya bergetar, dan air mata besar menggelinding di pipinya. "Istanaku…" isaknya.

Baby Mo ingin sekali lari bersembunyi. Dadanya terasa sesak. Kata "maaf" tersangkut di tenggorokannya, berat seperti batu.

Abi datang mendekat, tapi ia tidak memarahi Baby Mo. Abi berkata pelan, "Lihat wajah Ais, Sayang. Dia sedih. Apa yang bisa membuat hatinya hangat lagi?"

Baby Mo memandang adiknya yang menangis. Sesuatu di dalam dadanya ikut sakit. Pelan-pelan, ia berjalan mendekat. Ia tidak tahu harus berkata apa, jadi ia melakukan yang ia bisa: ia mengulurkan tangan dan mengusap kepala Baby Ais.

"Maaf, Ais," bisiknya akhirnya. Lalu ia jongkok di pasir. "Mo bantu bikin lagi, ya?"

Mata Baby Ais masih basah, tapi ia mengangguk. Dan di sanalah mereka berdua, dua tangan kecil membangun istana baru — kali ini bersama. Menaranya lebih tinggi. Paritnya lebih lebar. Dan benderanya dua, satu untuk masing-masing.

Maaf yang tulus, ternyata, tidak menghancurkan apa-apa. Ia justru membangun sesuatu yang lebih kuat dari sebelumnya.

Orang yang paling dicintai Allah adalah yang paling baik akhlaknya, dan yang paling lembut hatinya.

Sore itu istana pasir berdiri lagi. Tapi yang paling kokoh bukan istananya — melainkan persaudaraan yang baru saja diperbaiki dengan satu kata hangat.

Tema:AkhlakKasih Sayang

Terkait cerita ini

Parenting

Mengajarkan Adab Sehari-Hari

Baca ceritanya


Catatan lain