Draf cerita untuk buku Baby Mo
Kucing Kecil di Bawah Hujan

Hujan turun deras, dan Baby Ais mendengar suara kecil yang sedih dari balik pagar. Tangan sekecil apa yang bisa menolong?
Hujan turun deras sore itu. Baby Ais menempelkan hidungnya ke jendela, menonton titik-titik air berlomba turun di kaca.
Lalu ia mendengarnya. Suara kecil. "Meong… meong…" Sedih sekali.
Di balik pagar, seekor kucing kecil basah kuyup, menggigil. Bulunya menempel ke badannya yang mungil. Matanya yang bulat menatap Baby Ais.
Baby Ais berlari ke Umi. "Umi! Kucing! Basah! Dingin!" katanya, menarik-narik tangan Umi.
Mereka membuka pintu. Baby Ais ingin sekali memeluk kucing itu erat-erat, tapi Umi memegang tangannya. "Pelan-pelan, Sayang. Dia takut. Kita harus lembut."
Baby Ais belajar. Ia duduk jongkok, mengulurkan tangan kecilnya pelan-pelan, dan berbisik, "Sini… sini… nggak apa-apa."
Kucing kecil itu mengendus jarinya. Lalu — pelan sekali — ia melangkah masuk ke teras yang kering.
Baby Ais membawakan handuk kecil. Umi menuangkan sedikit susu hangat ke mangkuk. Kucing itu menjilatnya, lalu mendengkur — suara kecil yang bergetar seperti mesin mainan.
"Dia bilang terima kasih," kata Umi tersenyum.
Baby Ais memandang kucing yang kini hangat dan kenyang itu. Hatinya penuh, sepenuh mangkuk susu tadi. Ternyata tangan yang kecil pun bisa menjadi tempat berlindung bagi yang lebih kecil lagi.
Para penyayang akan disayangi oleh Yang Maha Penyayang. Sayangilah yang ada di bumi, niscaya Yang di langit menyayangimu.
Hujan masih turun di luar. Tapi di teras kecil itu, ada satu kucing yang tidak lagi kedinginan — karena seorang anak perempuan memilih untuk menyayangi.
Terkait cerita ini
Hadis
Yang tidak menyayangi tidak akan disayangi
Baca ceritanya →
Catatan lain
Bulan yang Mengikuti Baby Mo
Sepanjang perjalanan pulang, bulan terus mengikuti mobil. Apakah bulan benar-benar teman Baby Mo? Dan kenapa kita harus tidur, sih?
Baby Mo (2)Bismillah Dulu
Baby Mo selalu terburu-buru. Sampai ia menemukan satu kata kecil yang membuat semuanya terasa lebih berkah.