Lewati ke konten
Baby Mo

Draf cerita untuk buku Baby Mo

Baby Ais (2)Cerita Anak20 Mei 2026ยท5 menit baca

Kebun Sabar Baby Ais

Baby Mo

Baby Ais menanam satu biji kecil dan ingin bunganya mekar HARI INI. Tapi kebun punya pelajarannya sendiri.

Abi memberi Baby Ais sebutir biji bunga matahari, sekecil kuku jarinya. "Tanam ini, Sayang. Dengan izin Allah, nanti tumbuh tinggi sekali."

Baby Ais menggali lubang kecil, memasukkan bijinya, dan menutupnya dengan tanah. "Bismillah," bisiknya, meniru Abi.

Lalu ia berdiri, bertolak pinggang, dan menunggu.

Satu menit. Dua menit. Tidak ada apa-apa.

"Abi! Kok belum tumbuh?" tanyanya, dahinya berkerut.

Abi tersenyum. "Sabar, Sayang. Bunga tidak tumbuh karena kita teriaki. Ia tumbuh pelan-pelan, dari dalam, di tempat yang tak terlihat."

Esok paginya Baby Ais berlari ke kebun. Masih tanah. Ia hampir menangis. Tapi Abi mengajaknya menyiram, sedikit air setiap pagi. "Bismillah," dan sedikit air. "Bismillah," dan sedikit air.

Hari berganti hari. Baby Ais menyiram. Menunggu. Menyiram lagi. Kadang ia lupa, dan kebun terasa membosankan. Tapi Abi selalu mengajaknya kembali, dengan sabar yang sama seperti yang sedang ia ajarkan.

Lalu, suatu pagiโ€”

"ABI! ABI!" Baby Ais berteriak. Dari dalam tanah, sehelai daun hijau kecil mengintip, lembut seperti telinga kelinci.

Baby Ais terpana. Selama ini, di bawah tanah yang terlihat kosong, sesuatu sedang tumbuh diam-diam. Kesabarannya tidak sia-sia. Ia hanya tidak bisa melihatnya.

"Hal-hal yang baik butuh waktu," kata Abi sambil memeluknya. "Seperti bunga. Seperti hati yang baik. Allah yang menumbuhkan, kita yang menyiram dengan sabar."

Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.

Beberapa minggu kemudian, bunga matahari itu tumbuh lebih tinggi dari Baby Ais sendiri, wajahnya menghadap matahari. Dan setiap kali memandangnya, Baby Ais ingat: yang ditanam dengan sabar, akan mekar pada waktunya.

Tema:AkhlakSabarSyukur

Terkait cerita ini

Doa

Doa Memohon Berkah atas Rezeki

Baca ceritanya โ†’


Catatan lain