Kata maaf yang berat

Baby Mo mendorong Baby Ais sampai jatuh. Meminta maaf ternyata lebih sulit daripada yang Abi kira.
Baby Mo merebut mainan, Baby Ais jatuh, nangis. Abi tidak menyuruh Baby Mo bilang "maaf" dengan nada perintah — itu cuma bikin kata maaf jadi mantra kosong.
Abi gendong Baby Ais dulu sampai tenang. Baru Abi tunjukkan ke Baby Mo: "Lihat, Ais sakit. Coba usap." Baby Mo ragu, lalu mengusap kepala saudarinya dengan tangan gemuknya. Itu maafnya — sebelum dia bisa mengucapkannya.
Empati datang sebelum kata. Anak perlu melihat akibat perbuatannya pada wajah orang lain dulu, baru kata "maaf" punya arti. Abi tidak mengejar ucapannya; Abi mengejar pengertiannya.
Bukan golongan kami orang yang tidak menyayangi yang kecil.
Beberapa menit kemudian mereka main bareng lagi seolah tidak terjadi apa-apa. Tapi Abi tahu, sesuatu yang kecil baru saja ditanam.
Terkait cerita ini
Parenting
Mengajarkan Adab Sehari-Hari
Baca ceritanya →
Catatan lain
Bulan yang Mengikuti Baby Mo
Sepanjang perjalanan pulang, bulan terus mengikuti mobil. Apakah bulan benar-benar teman Baby Mo? Dan kenapa kita harus tidur, sih?
Baby Mo (2)Bismillah Dulu
Baby Mo selalu terburu-buru. Sampai ia menemukan satu kata kecil yang membuat semuanya terasa lebih berkah.