Draf cerita untuk buku Baby Mo
Kakak Cuma Lima Menit

Baby Mo lahir lima menit lebih dulu dari Baby Ais. Lima menit saja! Tapi Baby Mo menganggapnya tugas yang sangat, sangat penting.
Baby Mo punya satu hal yang sangat ia banggakan. Ia lahir lima menit lebih dulu daripada Baby Ais. Lima menit! Maka, menurut Baby Mo, itu menjadikannya seorang KAKAK. Dan kakak, katanya, punya tugas penting: menjaga adik.
"Mo kakak," katanya mantap setiap pagi, sambil bertolak pinggang. Baby Ais cuma mengangguk sambil menyusu botolnya, tidak terlalu peduli soal lima menit.
Tugas pertama Sang Kakak: mencicipi makanan dulu. Kalau Umi memberi bubur baru, Baby Mo akan menyendok satu suap untuk dirinya, mengunyah dengan wajah serius seperti seorang ahli, lalu mengangguk. "Aman." Baru Baby Ais boleh makan. (Padahal sebenarnya ia cuma ingin makan duluan, tapi ssst, jangan bilang-bilang.)
Tugas kedua: berjalan paling depan. Setiap mereka jalan-jalan, Baby Mo melangkah di depan seperti penjaga kecil, sesekali menengok ke belakang memastikan adiknya masih ada.
Tapi tugas Sang Kakak benar-benar diuji suatu sore di taman.
Baby Ais sedang asyik bermain pasir, ketika seekor anjing besar lewat dan menggonggong, "Guk! Guk!" Baby Ais kaget, matanya langsung berkaca-kaca, dan ia mundur ketakutan.
Dan dalam sekejap โ bahkan sebelum Umi sempat bergerak โ Baby Mo sudah berlari, berdiri di depan adiknya, merentangkan kedua tangan kecilnya lebar-lebar. Suaranya gemetar, tapi ia tetap berkata kepada anjing itu, "Jangan! Ini adik Mo!"
Anjing itu, yang ternyata jinak, cuma mengibaskan ekornya dan pergi. Tapi Umi terpaku. Anak sekecil itu, yang juga takut, memilih untuk berdiri di depan saudarinya.
Malam itu Umi memeluk Baby Mo. "Mo tadi berani sekali. Padahal Mo juga takut, ya?"
Baby Mo mengangguk jujur. "Takut. Tapi Ais lebih takut. Jadi Mo harus jagain. Mo kan kakak." Lalu ia menambahkan dengan serius, "Lima menit."
Umi tertawa dan menciumnya. "Iya, Sayang. Kakak yang hebat. Tahukah kamu, menjaga yang lebih lemah itu disukai Allah."
Yang kuat bukanlah yang menang berkelahi, tapi yang menjaga dan menyayangi yang lebih lemah darinya.
Lima menit memang tidak lama. Tapi di hati Baby Mo, lima menit itu cukup untuk membuatnya bertekad menjaga saudarinya seumur hidup.
Dan Baby Ais? Ia memang tidak peduli soal lima menit. Tapi diam-diam, ia sangat bersyukur punya kakak seperti Baby Mo. ๐ช
Terkait cerita ini
Hadis
Kelembutan menghiasi segalanya
Baca ceritanya โ
Catatan lain
Bulan yang Mengikuti Baby Mo
Sepanjang perjalanan pulang, bulan terus mengikuti mobil. Apakah bulan benar-benar teman Baby Mo? Dan kenapa kita harus tidur, sih?
Baby Mo (2)Bismillah Dulu
Baby Mo selalu terburu-buru. Sampai ia menemukan satu kata kecil yang membuat semuanya terasa lebih berkah.