Gantian di ayunan

Satu ayunan, dua anak. Umi belajar bahwa 'sabar' paling mudah diajarkan lewat hitungan.
Di taman cuma ada satu ayunan yang kosong. Baby Mo naik duluan. Baby Ais berdiri di samping, menarik-narik bajunya: giliranku, giliranku.
Umi tidak mau memaksa Baby Mo turun begitu saja — itu mengajarkan bahwa yang menangis paling kencang yang menang. Jadi Umi pakai hitungan: "Mo ayun sampai sepuluh, ya. Kita hitung bareng. Habis itu Ais." Dan kami menghitung keras-keras: satu… dua… sampai sepuluh.
Sampai hitungan sepuluh, Baby Mo turun sendiri. Bangga, malah. Sabar jadi terukur, ada ujungnya yang jelas — bukan "tunggu" yang kabur dan terasa selamanya buat anak dua tahun.
Sungguh, bersama kesulitan ada kemudahan.
Menunggu giliran adalah ibadah kecil. Dan ternyata, sepuluh hitungan adalah panjang yang pas untuk hati yang masih belajar bersabar.
Terkait cerita ini
Parenting
Rivalitas Antar Saudara
Baca ceritanya →
Catatan lain
Bulan yang Mengikuti Baby Mo
Sepanjang perjalanan pulang, bulan terus mengikuti mobil. Apakah bulan benar-benar teman Baby Mo? Dan kenapa kita harus tidur, sih?
Baby Mo (2)Bismillah Dulu
Baby Mo selalu terburu-buru. Sampai ia menemukan satu kata kecil yang membuat semuanya terasa lebih berkah.