Gantian di ayunan

Satu ayunan, dua anak. Umi belajar bahwa 'sabar' paling mudah diajarkan lewat hitungan.
Di taman cuma ada satu ayunan yang kosong. Baby Mo naik duluan. Baby Ais berdiri di samping, menarik-narik bajunya: giliranku, giliranku.
Umi tidak mau memaksa Baby Mo turun begitu saja — itu mengajarkan bahwa yang menangis paling kencang yang menang. Jadi Umi pakai hitungan: "Mo ayun sampai sepuluh, ya. Kita hitung bareng. Habis itu Ais." Dan kami menghitung keras-keras: satu… dua… sampai sepuluh.
Sampai hitungan sepuluh, Baby Mo turun sendiri. Bangga, malah. Sabar jadi terukur, ada ujungnya yang jelas — bukan "tunggu" yang kabur dan terasa selamanya buat anak dua tahun.
Sungguh, bersama kesulitan ada kemudahan. (QS. Al-Insyirah: 6)
Menunggu giliran adalah ibadah kecil. Dan ternyata, sepuluh hitungan adalah panjang yang pas untuk hati yang masih belajar bersabar.
Terkait cerita ini
Parenting
Rivalitas Antar Saudara
Baca ceritanya →
Catatan lain
Pelukan Tidak Pernah Habis
Sepupu bayi datang menginap, dan Umi menggendongnya sepanjang hari. "Aku juga bayi!" teriak Baby Mo. Apakah sayang Umi bisa habis?
Baby Mo & Baby AisPasukan Pemungut Sampah
Seekor burung kecil mematuk bungkus plastik di taman. Baby Mo dan Baby Ais memutuskan sesuatu — dan taman itu tidak pernah sama lagi.