Draf cerita untuk buku Baby Mo
Bismillah Dulu

Baby Mo selalu terburu-buru. Sampai ia menemukan satu kata kecil yang membuat semuanya terasa lebih berkah.
Baby Mo adalah anak yang paling cepat sedunia. Cepat bangun, cepat lari, cepat-cepat mau melakukan segalanya. Kalau Baby Mo punya semboyan, semboyannya pasti: "Cepat! Cepat! Cepaaat!"
Pagi itu matahari baru saja mengintip malu-malu di balik tirai. Baby Mo sudah melompat dari tempat tidur β hap! β berlari ke meja makan, dan langsung menyambar roti selai cokelat kesukaannya. Hap lagi! Hampir masuk ke mulut.
"Eit, tunggu dulu, jagoan," kata Umi lembut sambil menahan tawa. "Sudah baca apa belum?"
Baby Mo berhenti. Pipinya sudah menggembung seperti tupai yang menyimpan kacang. Ia menggeleng pelan-pelan. "Mmm?"
Umi duduk sejajar dengan matanya. "Bismillah dulu," katanya. "Artinya, 'dengan nama Allah'. Jadi apa pun yang kita mulai, kita mulai bareng Allah. Seperti memegang tangan Allah dulu sebelum melangkah."
Baby Mo menelan rotinya β gluk β lalu mencoba kata itu pelan-pelan. "Bisβ¦ milβ¦ lah." Kata itu terasa bulat dan hangat di mulutnya, seperti seteguk susu cokelat di pagi yang dingin. Ia menyukainya. Ia mengulanginya lagi, lebih keras, "Bismillah!" sampai Baby Ais yang masih mengantuk ikut kaget dan berkata, "Lah!"
Sejak pagi itu, Baby Mo jadi penasaran. Apa benar kata kecil ini punya kekuatan?
Maka ia mencobanya ke mana-mana, seperti seorang ilmuwan cilik.
Sebelum memakai sepatu β "Bismillah!" β dan entah kenapa, kaki kanannya masuk lebih mulus. (Biasanya selalu tertukar.)
Sebelum menyiram bunga di teras β "Bismillah!" β dan tetesan airnya berkilau ditimpa matahari, seperti hujan permata kecil. Baby Mo ternganga.
Sebelum menyusun balok jadi menara β "Bismillah!" β dan ia menyusun lebih pelan, lebih hati-hati, satu per satu. Menara itu berdiri lebih tinggi dari kepalanya sendiri! Baby Mo melompat girang. Ternyata "Bismillah" tidak membuatnya lebih cepat β tapi membuatnya lebih tenang. Dan yang tenang, ternyata, lebih kuat.
Siang itu ada satu ujian. Baby Ais terpeleset di lantai dan menangis karena lututnya lecet sedikit. Air matanya bulat-bulat besar. Biasanya Baby Mo akan ikut panik. Tapi kali ini ia berlari, menggenggam tangan adik kembarnya, dan berbisik pelan seperti yang Umi ajarkan, "Bismillah, Ais. Nggak apa-apa."
Aneh sekali. Pelan-pelan, isak Baby Ais mereda. Mungkin bukan karena lututnya tiba-tiba sembuh β tapi karena ada suara tenang di sampingnya. Suara yang memulai segala sesuatu bersama Allah.
Malam tiba. Lampu kamar dimatikan, dan kamar menjadi gelap dan teduh. Baby Mo menarik selimut sampai ke dagu. Ia teringat semua kejadian hari itu: sepatu, bunga, menara, tangan Baby Ais. Lalu ia memejamkan mata dan tersenyum kecil di dalam gelap.
"Bismillah," bisiknya, hampir tak terdengar.
Di balik pintu, Umi diam-diam mendengar. Ia menahan napas, lalu tersenyum. Karena Baby Mo, si anak paling cepat sedunia, akhirnya menemukan satu rahasia yang besar di dalam satu kata yang kecil: yang dimulai dengan nama Allah, selalu terasa cukup.
Setiap perkara baik yang tidak dimulai dengan Bismillah, maka kurang keberkahannya.
Dan begitulah, satu kata kecil mengubah seluruh hari Baby Mo β bukan menjadi lebih cepat, tapi menjadi lebih berkah.
Sekarang, sebelum menutup buku ini, yuk kita coba bersama si kecil: tarik napasβ¦ lalu ucapkan pelan-pelan, "Bismillah." Rasakan, ya β hangat seperti susu cokelat. π€
Terkait cerita ini
Doa
Doa Sebelum Makan
Baca ceritanya β
π¬ Tonton lagunya di Baby Mo
Putar bersama si kecil setelah membaca ceritanya π΅
Catatan lain
Bulan yang Mengikuti Baby Mo
Sepanjang perjalanan pulang, bulan terus mengikuti mobil. Apakah bulan benar-benar teman Baby Mo? Dan kenapa kita harus tidur, sih?
Baby Mo & Baby AisKrayon ungu untuk berdua
Cuma ada satu krayon ungu. Baby Mo dan Baby Ais sama-sama mau. Umi menahan diri untuk tidak langsung melerai.