Bisikan jam tiga pagi

Baby Mo bangun nangis tengah malam. Baby Ais, kembar perempuannya, tetap nyenyak. Abi jadi suara yang tenang.
Tadi malam Baby Mo bangun jam tiga, nangis. Belum bisa ngomong banyak, jadi belum bisa cerita kenapa. Baby Ais, kembar perempuannya, tetap tidur nyenyak di kasur sebelah — kadang Abi takjub bagaimana satu anak bisa nangis sekencang itu tanpa membangunkan saudara kembarnya.
Refleks pertama Abi: "Yuk, baca doa sebelum tidur." Lalu sadar — Baby Mo belum bisa ucap apa pun selain "umi", "abi", dan "mmmm" yang artinya minta gendong.
Abi pun gendong, jalan-jalan kecil di kamar. Sambil bisikkan di telinganya:
Bismika Allahumma ahyaa wa amuut.
Pelan. Berulang. Bukan supaya dia hafal. Supaya dia kenal suara itu.
Beberapa minggu terakhir Abi banyak baca soal anak usia 0–3 tahun — terutama yang kembar. Salah satu yang stuck di kepala: anak menyerap doa jauh sebelum mereka bisa mengulanginya. Telinga mereka sudah mendengar Al-Fatihah dari dalam kandungan — dua telinga, dua anak. Bahasa pertama yang mereka kenal dari kita bukan kata — tapi nada. Tenang atau panik. Lembut atau buru-buru.
Jadi malam itu Abi tidak mengajarkan apa-apa. Cuma jadi suara yang tenang. Yang baca doa pelan-pelan sampai Baby Mo tertidur lagi di bahu Abi. Baby Ais masih bersuara tidur kecil di kasur sebelahnya. Tidak terbangun. Alhamdulillah.
Kalau besok Baby Mo bangun lagi jam tiga, Abi akan kembali bisikkan kalimat yang sama. Kalau gantinya Baby Ais, juga kalimat yang sama. Bukan untuk mengajarinya. Untuk mengenalkan.
Terkait cerita ini
Doa
Doa Sebelum Tidur
Baca ceritanya →
Catatan lain
Bulan yang Mengikuti Baby Mo
Sepanjang perjalanan pulang, bulan terus mengikuti mobil. Apakah bulan benar-benar teman Baby Mo? Dan kenapa kita harus tidur, sih?
Baby Mo (2)Bismillah Dulu
Baby Mo selalu terburu-buru. Sampai ia menemukan satu kata kecil yang membuat semuanya terasa lebih berkah.